Mentari Terbit di Kampung Bali

KBR68H–  Belasan tahun Kampung Bali dicap sebagai salah satu titik paling rawan narkoba di Jakarta. Ratusan nyawa anak muda yang mati di tengah kampung jadi saksi. Tapi kini Kampung Bali mulai berbenah. Motornya justru para bekas pengedar dan pecandu narkoba. Reporter KBR68H Muhammad Irham menemui anak muda yang ingin melihat Kampung Bali punya masa depan.

Kambal Care

Lagu ‘Tentang Kita’ meluncur dari sebuah pemutar audio usang di ruang tamu Kampung Bali Care. Ini adalah tempat berkumpul bekas bandar dan pecandu narkoba di Kampung Bali, Jakarta Pusat.

Ardiansyah menikmati kembali lagu yang diciptakannya. Ia termasuk yang beruntung, bisa putus narkoba dengan bermusik. “Supaya lepas dari ikatan narkoba. Supaya dijauhin dari hal-hal seperti itu. Terus di luar itu kita memberikan sosialisasi, anak-anak Kampung Bali di mata masyarakat itu selalu jelek aja. Dengan kegiatan-kegiatan ini masih banyak anak-anak Kampung Bali yang kreatif.”

Lemari di Kampung Bali Care menjadi saksi perubahan di sana. Lemari berisi buku-buku tentang sosialisasi bahaya narkotika, juga sejumlah piala. Diantaranya ada Piala Juara 1 Kejuaraan Sepak Bola BNN Cup 2004, serta Juara 3 Turnamen Futsal 20 Tahun Yayasan Pelita Indonesia 2009.

Sampai 2007, paling tidak hampir tiap pekan bendera kuning berkibar di sini. Anak muda yang kebanyakan jadi korban. Koordinator Kampung Bali Care, Pungky Djoko mengatakan,”Yang kita jangkau, itu kebanyakan bukan karena mati overdosis. Tapi karena efek samping penggunaan narkoba. Sekitar tahun 2004 sampai 2005 itu paling tinggi. Sekitar 70an. Kemudian 2005 itu ada 48. Kemudian 2006 itu 53. Terus,  2007 sekitar 40an. Jadi yang paling banyak itu tahun 2004 sampai 2006.”

Yudi Irawan duduk di bawah poster bergambar perempuan muda kesakitan menahan sakaw narkoba. Di sisi dinding lainnya, peringatan penyakit HIV/AIDS mengintai pengguna narkoba. Sejak 1998, Kampung Bali dikenal sebagai pusat penjualan narkoba. Pasarnya artis sampai pejabat.

Yudi memutuskan berhenti pada 2002 karena jantungnya sering sakit. Ia yang dulu akrab dengan heroin, kini menanggung akibatnya: HIV ada dalam tubuh. Sejak berhenti, Yudi direkrut Puskesmas Tanah Abang untuk menjangkau anak-anak muda yang masih terjerat narkoba. “Ya bisa dibilang relawanlah. Tugasnya bantu teman-teman yang masih jadi pecandu, terus mau berubah dari kecanduannya itu. Mereka yang pengen ke arah yang lebih bagus. Terus yang mau berobat, tapi ke rumah sakit mahal. Kita bantu akses ke rumah sakit yang murah dan gratis. Ya, di puskesmas sini.”

Sementara Ugairi membuka bengkel motor setelah berhenti pakai narkoba.

Ugairi sebetulnya warga seberang Kampung Bali. Tapi ditarik ke sini, karena punya kemampuan memperbaiki sepeda motor. Supaya bekas pecandu narkoba bisa punya alternatif penghidupan. “Rata-rata yang udah belajar itu, buka usaha sendiri. Udah ada 4 orang. Itu di daerah Jawa Barat, sama daerah Jakarta. Yang penting dikasih dulu kesempatan dan kepercayaan untuk bongkar. Terus dilatih pelan-pelan deh.”

Warung Nur Hawa berada tepat di depan bengkel Ugairi. Warungnya menjual aneka makanan dan minuman. Ibu satu anak ini baru bebas narkoba setelah ikut rehabilitasi dari Badan Narkotika Nasional BNN. Ia mengaku letih hidup dengan narkoba. Ia dapat modal dari iparnya. “Dikasih tuh gua modal sejuta. Gua beli box, gua beli payung. Semua gua beli deh. Nah, gua gimana nih harus dipercaya sama orang. Ya, gua harus jujur dong. Gua harus jujur dan gua nggak pake.”

Perubahan ini, kata Nur, membuat orangtuanya senang. “Beda deh sekarang. Orang tua sama gua udah beda. Lebih sayang. Akhirnya semuanya seneng. Ayah-Ibu gua seneng. Anak gua seneng. Manfaatnya banyak banget buat gua. Bahagia gua.“

Kampung Bali memang belum 100% bebas narkoba. Tapi paling tidak, sejak 2005, sudah lebih seribu pasien pengguna narkoba jenis suntik yang ditangani Puskesmas Kampung Bali. Kepala Puskesmas Kampung Bali Martha Panggabean. “Kadang-kadang mereka segan untuk datang ke puskesmas. Jadi kita ada petugas penjangkau untuk menjangkau mereka ke lapangan sampai ke tingkat RT. Jadi menurut saya peningkatan yang mau berhenti itu ada. Kami melakukan yang sebaik-baiknya supaya kasus narkotika tidak meningkat.”

Mereka yang beruntung lolos dari maut narkoba mencoba memperbaiki Kampung Narkoba. Berkat para bekas pecandu dan pengedar, status Kampung Bali berubah dari ‘merah’ menjadi ‘hijau’ pada 2006. Siapa saja mereka?

Bekas pecandu bawa perubahan

Dwi Santoso alias Odeng baru saja tiba di Puskesmas Kampung Bali.

Dulu Odeng pecandu putaw atau heroin, tapi kini ia membantu pasien Puskesmas Kampung Bali berobat ARV, untuk menekan jumlah HIV dalam tubuh. Ia baru tiba dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, diutus Puskesmas untuk mencari pinjaman ARV. Kebetulan hari itu pengajuan obat ARV ke BNN belum turun, sementara di Puskesmas Kampung Bali banyak yang butuh.

“Kita sih pengennya full. 100 orang yang berobat, 100 juga yang dapat. Kadang-kadang, 100 pengajuan, yang dapat cuma 50. Di Puskemas Kampung Bali yang dateng dari Depok, Tanggerang ada juga. Yang penting bisa bagi-bagi obat aja, bagi anak-anak. Kalau untuk kehabisan sih nggak pernah. Karena kita juga punya jaringan di Rumah Sakit-Rumah Sakit. Jadi kalau obat kita abis, pengajuan belum diturunkan, kita pinjam dulu ke Rumah Sakit lain. Ya, resikonya sih mereka pasti nagih. Namanya kita pinjem ya pasti kita pulangin.”

Odeng yang dulu pecandu dan pengedar narkoba, kini jadi pendamping teman-temannya yang mau sembuh dari narkoba.

“Saya berhenti pake, temen saya banyak yang meninggal. Abang angkat saya sendiri meninggal di tangan saya sendiri. Tahun 2001 masuk, keluar tahun 2003. Itu dua kali yang ketangkep. Yang pertama, masih bisa kita bayar. Di Salemba itu banyak tantangannya. Kita lebih bebas pakai di dalam daripada di luar. Barang juga bagusan di dalam daripada di luar. Cuma yang bahaya jarumnya itu. Satu jarum seribu orang. Di dalam itu, jarum disewain. Sekali pakai dua ribu. Saya di dalam sudah nggak kepengen. Secara ngeliat dia pakainya udah ngilu. Udah takut. Resikonya berat. Kita pakai sendiri, tapi penyakit bareng-bareng.”

Misi Odeng sekarang adalah memecah kelompok pengguna narkoba kambuhan di Kampung Bali. Satu per satu, mereka diajak ikut Pusat Rehabilitasi BNN di Lido, Jawa Barat.

“Saya nggak mungkin langsung membawa 5 orang ke Lido. Pertama saya ambil dari pasiennya, saya buang ke Lido. Pasiennya saya obatin. Dengan cara gitu kan bisa berkurang. Nah, nanti induknya itu, akhirnya bosen sendiri. Nggak ada yang beli barang. Barang dipakein, sementara barang itu titipan orang. Akhirnya dia datang ke kita, berobat sendiri.”

Masa depan

Di depan Puskesmas, Luri Ardi alias Iboy duduk di depan warung kopi. Ia juga jadi motor perubahan di Kampung Bali, bersama Odeng. Iboy berhenti pakai narkoba karena tak ingin kehilangan generasi muda di Kampung Bali.

“Ya, kelahiran tahun 70 sampai 80-lah. Ya, bukan nggak mungkin kelahiran 65 juga ada. Kalau gua nggak melakukan hal itu, mungkin orang bilang ini hilang satu generasi. Tapi menurut gua, kita lebih dari satu generasi yang hilang kalau berdiam diri saja. Ibaratnya bukan apa-apa, ini lingkungan gua, yang harus selesain masyarakatnya sendiri. Banyak sekali teman-teman gua yang udah meninggal, kadang gua berpikir nggak adil sama mereka. Gua cuma bisa berhenti sendiri, tapi nggak bisa nyelamatin mereka.”

Iboy berhenti pakai narkoba sejak 1998. Tapi kala itu ia sendirian. RT-RW tak ada yang membantunya. “Dulu gua ekstrem. Tiap kali ada pasien yang datang mau beli putau, gua usir. Bahkan saat itu gua pakai kekerasan, pakai fisik sama anak-anak di sini. Karena gua melihat udah nggak nyaman lagi. Tujuan gua bukan untuk ngabisin dia, tapi bagaimana agar bandar nggak ada pasiennya di sini. Seremlah kondisinya, jadi kita bentrok sama teman sendiri. Karena yang jual teman juga, yang kita kenal.”

Bersama anak muda lain yang juga sudah berhenti narkoba, Iboy membentuk Karang Taruna Kampung Bali. Anggota awal hanya 10 orang. “Pada saat itu, kita kumpulan anak muda yang nggak punya kekuatan apa-apa. Cuma punya patokan, punya keyakinan aja. Ayo, kita nggak bisa diam saja pada saat itu. Kita bikin musik yuk, bikin panggung. Buat 17an, atau HUT DKI. Pada saat itu mulai timbul semangat. Pada saat itu, kita ajak senang-senang dulu. Abis gitu pelan-pelan gua kasih masukan sama mereka. Sampai kapan kita bakal begini.”

LSM yang membantu percepatan perubahan di Kampung Bali di masa awal adalah Yayasan Pelita Ilmu. Pada 2009, berubah nama menjadi Kampung Bali Care. Mereka seperti tengah menentang ombak besar, mengingat pecandu dan pengedar narkoba adalah teman-teman mereka sendiri di Kampung Bali. Kini, sebaliknya, mereka mendapat dukungan dari para bekas pecandu narkoba.

“Base Camp kita sering dikepung. Pernah juga dilemparin. Kita juga nggak mencari tahu siapa yang mengusir dan melempar kita. Kita berjalan apa adanya aja. Dan waktu itu, kita menjalankan program kerjasama dengan Puskesmas pertama kali di Indonesia. Ada ketidaksetujuan saat itu dari Dinas Kesehatan, dianggap program ini program ilegal.”

Sejak awal Maret, para bekas pecandu narkoba di Kampung Bali menyiapkan fisik dan berlatih futsal segiat mungkin. Demi kompetisi sepakbola antara pecandu narkoba yang digelar BNN.

Rustam, bekas pecandu, hidup dengan HIV. Ia tak kuat lagi berlatih futsal. Tapi ia ingin memastikan, Kampung Bali punya masa depan.

“Mimpi sih ada. Pengen lebih baik aja Kampung Bali. Biar jangan dicap orang jadi tempat jelek aja. Jangan ada cap di kantor-kantor tentang anak Kampung Bali begini-begitu. Dulu kan, nerima kerjaan, dengar nama Kampung Bali serem banget. Udah pasti dibilang, ‘Elo pemakai’. Udah pasti bilang begitu. Pengennya sih lebih maju lagi dari pada itu karena udah banyak kegiatannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: