Peluru tak Bertuan

“Melawan, Melawan!” teriakan itu membahana di Gang Kantil, Kampung Ndukuh, Desa Sanggrahan, Sukoharjo.

Lalu, orang-orang berseragam hitam melepaskan peluru dari senapan secara membabi buta. Berulang-ulang, meletus mengisi keheningan malam.

Sekitar 25 meter dari suara gaduh, Nur Iman sedang menyapu di halaman warung angkringan miliknya. Sabtu dini hari menjadi hari terakhir baginya. Tanpa permisi, sebutir peluru menembus dada. Warung angkringan Nur Iman juga diterjang peluru-peluru panas. Sehingga, tak mungkin ada yang bisa selamat bila berada di dalamnya. Nur Iman terkapar seketika bersimbah darah. Udara sudah tak lagi bisa dihirup. Denyut hidup berhenti.

Di hadapan orang-orang berpakaian hitam juga ada dua mayat terkapar dan masih hangat. Dua mayat itu yang kemudian diketahui bernama Sigit Qurdowi dan Hendro. Polisi sudah mengincar keduanya, karena dicurigai sebagai teroris.

Setelah hening sejenak, sejumlah warga mulai mengintip dan mendekati lokasi. Mereka bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi.

Gunawan, salah satu warga, mengerutkan dahi dan berduka ketika tahu tetangganya, Nur Iman ikut tewas dalam penggerebekan tim anti-teror polisi. Saat baku tembak berlangsung, Ia mengintip penasaran dari rumah. Gunawan memastikan posisi Nur Iman ketika itu menghadap ke selatan, membelakangi tim anti teror yang berbusana hitam-hitam. Sementara, kedua terduga teroris menghadap ke arah utara. Sedangkan Nuriman, berada di belakang dua orang terduga teroris. Kata, peluru yang menembus dada Nur Iman berasal dari tim anti teror.

Kilau Matahari mulai tampak, warung angkringan Nur Iman tetap terbuka. Warga Gang Kantil mulai kasak-kusuk membicarakan penggerebekan teroris dini hari tadi, termasuk tetang nasib pedagang angkringan. Bertanya-tanya, peluru milik siapa yang merobek dada Nur Iman?

Kasak-kusuk dari Gang Kantil tentang kepemilikan peluru yang mengakibatkan kematian Nur Iman menyeret perhatian dunia. Kepolisian segera menyatakan Nur Iman, sebagai warga yang terkena peluru nyasar. Peluru nyasar yang muntah dari pistol para teroris yang mati ditembak dini hari tadi.

Kesimpulan itu sangat cepat melesat sehingga lebih terkesan membela diri. Pengamat Kepolisian, Neta S Pane mengatakan, perlu ada penyelidikan independen terkait kematian Nur Iman. Polisi tak bisa seenaknya membuat pernyataan sepihak tanpa melalui penyelidikan. Untuk itu, Komnas HAM perlu terlibat dalam kasus ini, sebagai lembaga independen.

Komnas HAM merespon dengan rencana penyelidikan ke lokasi kejadian. Menurut
Anggotanya, Saharuddin Daming kejadian ini masuk kategori pelanggaran HAM berat. Institusi apa pun tak berhak mengambil nyawa seseorang kecuali atas ijin pengadilan. Seperti tertuang dalam ratifikasi HAM dunia, dimana Indonesia jadi bagian di dalamnya. Sanksi PBB yang bisa dijatuhkan terhadap Indonesia ialah pengucilan di dunia internasional serta penggunaan syarat-syarat tertentu saat kerjasama internasional.

Polemik terus bergulir. Sementara, Jenazah pedagang angkringan Nur Iman telah dimakamkan di tanah kelahirannya, Desa Bolali, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu malam, 14 Mei 2011. Isak tangis isteri dan ibu tak terbendung saat Jenazah akan disholatkan di sebuah masjid.

Menurut Kepala Desa Bolali, Sardono Darmaji, keluarga telah mendapatkan permintaan maaf dan bela sungkawa dari kepolisian. Polisi juga menanggung biayai pemakaman.

Nur Imam merupakan pedagang angkringan di Gang Kantil, Surakarta. Ia terkena peluru nyasar saat Detasemen Antiteror menembak mati dua terduga teroris. Sampai kini belum bisa dipastikan apakah Imam terkena peluru polisi atau dua teroris itu.

Pelbagai sumber.

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: