Bali Angels, Bermusik untuk Hapus Stigma

Dulu, sangat mudah mendapati anak muda di Kampung Bali, Jakarta, mati di selokan gara-gara narkoba. Sekarang, tidak lagi. Tapi label sebagai pusat peredaran narkoba terlanjur melekat. Sejumlah bekas pemakai narkoba di Kampung Bali lantas mendirikan band Bali Angels. Mereka ingin menunjukkan perubahan yang terjadi di Kampung Bali.

SUPRIYATNA: “Ini yang dituakan. Silahkan bicara. Hahaha.”

Tawa lepas mewarnai rumah mungil di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Lima personil dari band Bali Angles ini tengah berkumpul untuk mempersiapkan pertunjukan musik di sebuah mal Jakarta. Vokalis band, Tania, belum datang sehingga mereka belum bisa mulai latihan.

SURYATNA: “Vokalisnya lagi makan.”
KBR68H: “Bisa nyanyi nggak?”
SURYATNA: “Wah, liriknya Bahasa Inggris. Bahasa Inggris saya 4.”
ARDIANSYAH: “Saya 2,5. Hahaha.”

Supriyatna adalah salah satu personil band Bali Angels. Ia tengah duduk santai, bersandar pada pintu rumah. Tubuhnya gemuk, sorot matanya cerah. Pemuda 28 tahun ini dulu pecandu narkoba. 10 tahun silam, ia memutuskan untuk berhenti. Ia menyepi ke sebuah pulau selama tiga hari, melepas racun heroin dari dalam tubuh.

SUPRIYATNA: “Jadi hari pertama, gua ke pulau seribu. Subuhnya gue pake dulu. Gua jalan jam 6, dan sampai pulau seribu sorenya itu baru terasa. Wah terasa nih. Besok pasti wakas berat kan. Besok paginya, gua belagak renang. Gua belagak meriang, padahal gua wakas. Wakas itu sakaw, keteragantungannya.”

Supriyatna ingin punya umur panjang, karenanya berhenti jadi pecandu. Ia terpacu Ardiansyah yang sudah lebih dahulu berhenti pakai narkoba. Mereka adalah teman sepermainan di Kampung Bali, di mana narkoba begitu mudah ditemukan.

ARDIANSYAH: “Awalnya sih aksesnya mudah, gampang dicari. Murah pula. Untuk anak dalam, pasti jatuh harganya. Bukan korting lagi. Gratisan pun dikasih loh, bang. Kalau memang mau beli pun dilebihin.”

Sejak tahun 1990-an, Kampung Bali terkenal sebagai kawasan peredaran narkoba di Jakarta. Hampir semua penghuninya, orangtua sampai anak-anak, mengedarkan dan menggunakan narkoba secara terbuka di depan rumah masing-masing. Kematian anak muda gara-gara narkoba dalam 10 tahun terakhir seperti daun berguguran. Tania, Vokalis Bali Angels hampir tiap hari menyaksikan satu per satu temannya mati atau masuk penjara.

TANIA: “Kita lihat, sodara kita sendiri, kita lihat. Dia terperangkap di Narkoba aja, seperti itu. Masuk penjara, kena penyakit itu pastinya.”

10 tahun berlalu, anak-anak Kampung Bali mulai berubah. Kesadaran menata masa depan mulai terbit di Kampung Bali. Para pemakai narkoba banyak yang tewas atau berhenti. Sementara, pengedar pindah dari Kampung Bali atau mendekam di penjara.

Tapi label buruk itu masih tersisa, kata Ancha.

ANCHA: “Kalau dulu pengalamannya, mau naik taksi. Kemana? Kampung Bali. Itu supir nggak pake ngomong lagi, langsung, nggak mau.”

Mereka pun kesulitan mencari kerja. Seperti yang dialami Ardiansyah.

ARDIANSYAH: “Dulu pernah ngelamar kerja, di sebuah perusahaan swasta. Pas ngelamar, ini dari Kampung Bali, nggak usah di interview langsung di suruh pulang aja.”

Anak-anak muda yang ingin hidup bersih dari narkoba lantas sepakat membentuk band Bali Angels pada 2008. Sambil bermusik, mereka mengajak teman-temannya untuk berhenti pakai narkoba.

Supriyanta menceritakan salah satu lagu yang dinyanyikan Bali Angels. Tentang teman mereka yang mati karena narkoba.

SUPRIYATNA: “Dapat sebuah lagu yang judulnya O Friend. Jadi waktu itu, gue inget temen gue. Sahabat gitu ya. Yang sering nongkrong bareng. Udah banyak yang meninggal. Dan lebih tragisnya lagi, ada salah satu temen, awalnya dia nolongin abangnya. Abangnya overdosis. Ditolongin sama dia. Ditolongin pakai air garam, terus sadar. Abis gitu giliran dia yang pake. Abis dia nolongin abangnya, dia pake, giliran dia yang overdosis. Dia yang malahan nggak ketolong. Meninggal. Namanya, Almarhum Rama.”

Di atas panggung sebuah mal Jakarta, band Bali Angels ini menyuarakan pada dunia, Kampung Bali tak seperti dulu lagi.

LAGU: “Oh Friend, where you are. Im here alone. None who cares. Oh Friend, where you are. Im here a lone. None who cares.”

Reportase ini telah disiarkan sebelumnya, 21 Februari 2011 di http://www.kbr68h.com

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: