Pernyataan Pers Setara Institut: Pembubaran Perayaan Paskah

Pembubaran Perayaan Paskah di Cirebon

Intoleransi Meluas, Negara Kehilangan Kewibawaan

 

Siaran Pers SETARA Institute, 17 Mei 2011

 

1.    Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) Cirebon kembali berulah. GAPAS melakukan aksi pembubaran perayaan Paskah di Gedung Gratia Kota Cirebon, Senin Malam (16/5) dan di Hotel Apita Cirebon, Selasa (17/5). Ormas Bentukan H. Salim Badjri ini telah berulang kali melakukan aksi-aksi intoleransi baik terhadap Ahmadiyah di Kuningan, Cirebon, terhadap jemaat Kristiani, maupun kelompok agama lain atau paham keagamaan lain di Cirebon dan sekitarnya. GAPAS yang dipimpin oleh Andi Mulya adalah salah satu organisasi radikal yang paling getol melakukan aksi-aksi intoleransi di Cirebon. Terakhir, nama GAPAS sempat dihubungkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Mapolres Kota Cirebon. M. Syarif adalah salah satu aktivis pengajian dan aktor aksi-aksi yang kerap digelar oleh Andi Mulya. 

2.    Polisi yang memilih membubarkan acara Paskah yang diikuti sekitar 5000-an orang dan umumnya adalah pelajar atas desakan Andi Mulya dan 20 orang rekannya. Seperti biasa polisi berdalih untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Padahal, tidak ada sedikitpun pelanggaran yang dilakukan oleh Panitia Perayaan Paskah, baik terkait izin dan lainnya. Ketundukkan polisi pada kelompok vigilante untuk kesekiankalinya telah merendahkan martabat aparat penegak hukum dan melembagakan impunitas pelanggaran kebebasan beragama/ berkeyakinan. 

3.    SETARA Institute mengingatkan, jika kondisi ini terus menerus dibiarkan, aksi-aksi intoleransi akan terus meluas dan negara akan semakin kehilangan kewibawaannya. Dalam situasi yang demikian, apapun yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, tidak akan dianggap sebagai prestasi. Publik terlanjur tidak percaya dengan berbagai janji dan komitmen yang hanya berhenti di ujung lidah. Perlu dicatat, SBY berkali-kali telah berjanji akan menindak berbagai organisasi vigilante semacam GAPAS dan sejenisnya, tapi sampai hari ini tidak ada satupun aksi nyata dari Presiden. Semunya berhenti pada pernyataan. 

4.    SETARA Institute memandang bahwa para menteri terkait tidak pernah satu suara dalam soal aksi-aksi intoleransi dan radikalisme. Tidak ada pesan tunggal dari negara bagaimana menyikapi persoalan intoleransi dan radikalisme. Akibatnya isu-isu radikalisme dalam berbagai bentuk dan artikulasinya hanya menjadi kapital politik yang dieksploitasi untuk tujuan dan kepentingan politik. 

5.    SETARA Institute mengingatkan bahwa intoleransi, radikalisme, hanya membutuhkan satu langkah menuju terorisme. Dengan kata lain, membiarkan aksi-aksi intoleransi dan radikalisme hanya akan melahirkan dua kemungkinan; radikal non jihadis dan radikal jihadis yang dengan penuh keyakinan melakukan aksi-aksi terorisme. Kedua bentuk radikalisme ini telah nyata ada di sekitar kita; dan negara tidak bertindak. Membiarkan intoleransi semakin menguat sama saja membiarkan bibit-bibit baru kelompok jihadis tumbuh dan berkembang.

Pernyataan Mabes Polri terkait Pembubaran Perayaan Paskah di Cirebon Cek di http://t.co/oU6Yy3f

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: