Tempat Sampah, Tanpa Bau

Bukan sulap, bukan sihir: Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Kawasan Rawasari, Jakarta Timur tak mengeluarkan bau busuk. Berbeda dengan tempat pembuangan sampah pada umumnya yang bau busuknya bisa bikin pusing kepala. Di sini, sampah yang dibuang warga ditata rapi, lantas diolah menjadi pupuk kompos. Tempat pengolahan sampah ini dirancang oleh seorang perempuan yang dikenal dengan sebutan Ratu Sampah. Reporter KBR68H Muhammad Irham mendatangi tempat pengolahan sampah ini dan berkenalan dengan sang ratu.

Tanpa bau

Tiga bocah itu berlarian di antara tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Rawasari, Jakarta Pusat. Sesekali mereka melintasi lelaki tua yang sedang sibuk membongkar tumpukan sampah.

Lelaki berusia 73 tahun itu bernama Nasimin. Dia sudah bekerja selama 2 tahun di tempat pengolahan sampah yang berdiri sejak 1998 ini. Tugasnya memilah sampah organik dan non-organik.  “Jadi nanti, yang organic untuk dijadikan kompos, yang sudah ada di tumpukan-tumpukan itu. Yang sudah ada ini, tidak ada plastic, tidak ada kaleng. Jadi sudah terpisah. Jadi yang terpisah dalam bentuk plastic itu, dibuang. Tapi kalau ada yang bisa dijual, ya dijual. Seperti botol aqua, botol beling, itu bisa dijual.”

Sesekali wajah Nasimin dihinggapi lalat. Tapi di tempat pembuangan sampah ini tak tercium bau sama sekali. Ini rahasianya, kata Pak Min. “Sampah itu, kalau udah dipilah jadi nggak bau. Seperti kita duduk di sini. Bau nggak? Nggak kan. Jadi warga kalau protes itu kadang-kadang  karena Tempat Pembuangan Sampah bau, kumuh. Tapi kenyataannya, nggak. Setelah dipilah, udah nggak ada baunya. Kalau lalat mah biasa. Tapi udah nggak bau lagi.”

Nasimin kembali sibuk memilah sampah basah dan sampah kering. Sampah organik dan makanan yang sudah dipilah lantas ditumpuk. Di sini ada 28 tumpukan sampah, masing-masing setinggi 1,5 meter. Tumpukan sampah ini sudah dipilah, berasal dari rumah-rumah di sekitar TPST Rawasari.

Koordinator Teknis tempat pembuangan sampah Rawasari Rumanta baru saja tiba dengan sepeda ontel kesayangannya. Rumanta mengatakan, sampah organik ini akan diolah menjadi pupuk kompos. Caranya gampang. Tumpukan sampah tinggal disiram air dan diaduk dengan sekop. “Sayur-sayuran, daun-daunan, dari catering juga ada. Contohnya nasi. Nah, udah tinggi tumpukan satu, dibalik tiap minggu. Masuk ke tumpukan dua. Tumpukan tiga-terus makin menyusut,” cerita Rumanta.

Ada 4 karyawan di tempat pembuangan sampah ini. Mereka bertugas mengambil atau menerima sampah dari warga sekitar. Bisa sampai 4 gerobak per hari. Itu semua bisa menghasilkan 500 kilogram pupuk kompos. Pupuk kompos ini dijual, sekarung isi 15 kilogram, antara 500 sampai seribu rupiah per kilo.

Tempat pembuangan sampah ini pun terlihat asri. Di kiri kanannya, pohon bambu menjulang tinggi. Di depan belakangnya juga ada taman yang asri. Tempat pembuangan sampah seluas lapangan tenis ini ada di tengah permukiman warga. Biasanya kita mendengar cerita aksi protes warga kalau rumahnya berdekatan dengan tempat sampah. Kalau di sini, tidak ada.

Maryana tinggal tepat di belakang tempat pembuangan sampah Rawasari. “Di sekitar sini kan ada rumah sakit, ada sekolahan, ada kantor Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, ada kantor pemadam kebakaran, puskesmas, tapi nggak bau sih. Tapi sampah nggak masalah sih. Kalau bau pastinya udah dikomplain sama warga sini. Tapi nggak sih, biasa aja.”

Tempat sampah tanpa bau ini adalah proyek percontohan uji coba milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT dan Pemerintah Jakarta. Adalah seorang perempuan berjuluk ‘Ratu Sampah’ yang ada di belakangnya. Siapakah dia?

Ratu sampah

21 Februari adalah Hari Peduli Sampah. Sri Bebassari mengenakan busana serba hitam.

“Ini berkabung. Karena pada 21 Februari 2005, itu kan hampir 200 orang meninggal di TPA Leuwi Gajah, Bandung. Karena TPA-nya longsor. Makanya saya berkabung hari ini. Jadi, jangan sampai nanti, ada korban banyak, terus baru kita berpikir. Mau berapa lagi orang meninggal di TPA?” kata Sri.

Tragedi Leuwi Gajah terjadi di Bandung, 6 tahun silam. Dini hari itu, tempat pembuangan sampah longsor dan mengubur hidup-hidup lebih 140 orang. Total ratusan rumah tertimbun longsoran sampah yang tingginya mencapai 30 meter. Ini menjadi rekor kedua terbesar sedunia, setelah longsoran sampah di Quezon City, Filipina, pada tahun 2000, yang menewaskan lebih 200 orang.

Sri Bebassari adalah ahli sampah dari Asosiasi Persampahan Indonesia, InSWA. Ia mencatat, pusat pembuangan sampah di lebih 20 kota besar di Indonesia berpotensi mengalami longsor. Misalnya di Bogor, Tangerang, Sumatera dan Bandung. Kata dia, penyebabnya adalah sampah yang tak dipilah. “

TPA sekarang, di bawah standar. Hujan sedikit bisa longsor. Nah, itu salah satunya, di TPA sudah terlalu banyak kantong plastic.  Jadi, licin. Dan TPAnya sendiri berada di tebing, yang sebetulnya, secara teknologi, tidak boleh TPA ada di tebing.”

Tempat Pembuangan Sampah Terpadu di Rawasari, Jakarta Pusat, adalah contoh tempat pembuangan sampah ideal. Tak berpotensi longsor, juga tanpa bau. Sri Bebassari lah perancang tempat pembuangan sampah ini. Nantinya, model seperti ini bakal diadopsi oleh wilayah Jakarta lainnya.

Iwan Hendry dari Dinas Kebersihan Jakarta mengatakan, konsep tempat pembuangan sampah juga akan diubah menjadi bank sampah. Bank sampah adalah sistem menabung sampah jenis kertas, plastik dan botol dari warga setempat. Sampah yang dikumpulkan kemudian ditimbang dan dilaporkan jumlahnya kepada teller untuk dicatat dalam rekening. “Nanti ada lokasi lain, seperti Rawa Jati. Kita juga akan kembangkan di Pesanggrahan. Kemudian kita juga penjajakan dengan pengembang dari Pantai Indah Kapuk. Nah, itu juga kita akan kembangkan dengan konsep bank sampah. Malah kita maunya tahun ini jalan di Pesanggrahan.”

Kini pemilahan sampah organik dan non-organik bakal terus dioptimalkan. Konsep ini juga yang selalu digencarkan Sri Bebassari. Ibu dua anak, ini sudah bicara sampah lebih dari setengah umurnya. Kerja kerasnya membuat Sri dikenal sebagai ‘Ratu Sampah’. Julukan itu dia dapat dari teman kerja saat masih di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT sepuluh tahun lalu.

“Saya sih senang saja disebut sebagai Ratu Sampah. Soalnya, kan di Indonesia cuma satu. Hahaha. Daripada yang lain, produsen sampah. Cuma membuang aja kan?” kata Sri tergelak. Menurut dia, ini adalah bentuk pengakuan hasil kerjanya selama 31 tahun, mendedikasikan hidupnya pada sampah.

Sejak kuliah di Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung, 1976, Sri Bebassari mengaku sudah tertarik meneliti sampah. Ia prihatin, karena ilmu tentang sampah dianggap tidak penting.  Padahal ilmu soal sampah meliputi aspek kemasyarakatan, manajemen dan teknik pengelolaan. “Yang belajar sampah di dunia ini nggak sampai 1 persen. Sementara buang sampah itu semua orang 100 persen. Jadi benar-benar pekerjaan yang harus dicintai, ditekuni. Ya, sampah itu kan multidimensi. Ilmunya dinamis. Jadi, makin kita belajar, justru kita makin nggak tahu apa-apa. Jadi ilmu padi itu benar. Makin berisi, makin merunduk.”

Setelah lulus kuliah, Sri jadi peneliti sampah di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT. Salah satu buah kerja kerasnya adalah Undang-undang Sampah yang resmi berlaku pada 2008. Lewat undang-undang ini, sampah jadi perhatian nasional.

Kini Sri berkecimpung di Asosiasi Persampahan Indonesia, InSWA. Asosiasi pakar-pakar sampah ini memantau masalah sampah nasional secara intensif. Salah satu kampanye terkini mereka adalah pengurangan penggunaan kantong plastik.

Dinas Kebersihan Jakarta mencatat, peredaran plastik di Jakarta mencapai lebih 500 ton per hari. Tahun ini, Pemprov Jakarta menyatakan sebagai tahun bebas kantong plastik. Tapi di lapangan belum berlaku. Effendy, pedagang gorengan, setiap hari memakai 500 lembar kantong plastik untuk membungkus dagangannya. “Plastik itu kan fungsinya buat bungkus-bungkus. Kalau tak ada plastic, kan tidak bisa dijinjing barangnya.  Kalau nanti harganya naik ya kemungkinan, ya nanti kita akan naikkin harga jualannya. Ya mau bagaimana lagi, kalau kita dagang nggak pakai plastic ya kita bingung.”

Namun sampah plastik tak bisa diurai sampai beratus-ratus tahun.

Karena itulah, InSWA membantu Pemprov Jakarta untuk ikut membebaskan ibukota dari kantong plastik tahun ini. Sri Bebassari. “Pada saat ulang tahun DKI Jakarta, 10 Juni, InSWA memberikan penghargaan pada 23 ritel yang sudah menggunakan kantong plastik degradable. Dalam hal ini, InSWA hanya mengisi kekosongan program, karena pemerintah sampai saat ini belum mengeluarkan izin khusus untuk degradable plastik, juga belum mengeluarkan sertifikat. Karena SNI, untuk degradable plastik belum ada sampai sekarang.”

Kampanye pengurangan kantong plastik sudah bergulir sejak 2008, ketika Sri memulai seruannya ini kepada ritel-ritel modern. Kini mulai banyak ritel modern yang menggunakan plastik ramah lingkungan. Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Tutum Rahanta mengatakan,”Kita butuh proses ya. Tidak serta merta membalikkan tangan. Pasti ada satu proses. Ya, ini kan untuk kebaikan kita.”

Kembali ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu di Rawasari, yang asri dan tak bau.

Inilah karya nyata Sri Bebassari soal sampah. Belasan tahun berdiri, tempat sampah ini sama sekali tak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Nelly pun ikut merasakan manfaat kompos dari sampah di sana. “Nggak ganggu sih. Kalau ganggu kan, pasti udah dikomplain sama warga sini. Tapi kayaknya nggak dah.”

Telah diposting pada 9 Maret 2011, di http://www.kbr68h.com

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: