Enam Jam, Hasil Nihil

Pagi itu, lebih seribu personil kepolisian plus TNI upacara singkat di pelataran Ballroom Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat. Di bawah rimbun pohon beringin disertai kicau burung, sang pemimpin upacara berpesan agar Kongres PSSI bisa dicegah dari aksi anarki.

Upacara selesai. Mobil baja dan tim penyisir bom pun disiagakan di sekeliling Hotel Sultan. Penjagaan keamanan diperketat hingga ring empat juga melibatkan Polisi Militer.

Peserta upacara berpencar seperti yang sudah diinstruksikan atasan. Sekitar pukul 10.00 WIB, Kepala Polisi Jakarta Pusat, Hamidin, keluar dari Ballroom, tempat Kongres PSSI berlangsung.

“Akan ada 12 aksi unjuk rasa di Jakarta hari ini. Aksi ini melibatkan 8 elemen masyarakat. Tapi tak ada satu pun yang berunjuk rasa terkait Kongres PSSI. Jadi, kalau ada yang berunjuk rasa langsung dilarang. Karena tak ada izin. Seperti yang teman media ketahui, nanti pukul 2 siang bakal diselenggarakan Kongres PSSI, yang membuka itu Pak Agum Gumelar,” kata Hamidan sambil berlalu, mengawasi seputaran Ballroom Hotel Sultan yang sudah dipadati puluhan wartawan.

Pukul 2.15, acara pembukaan Kongres PSSI berlangsung. Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, Menteri Pemuda dan Olahraga serta Ketua KONI Rita subowo diberikan kesempatan untuk berpidato. Mereka berharap Kongres bisa berjalan sesuai jadwal tanpa persoalan, karena langsung dipantau perwakilan FIFA, Thierry Regenass.

Palu di tangan kanan Ketua Komisi Normalisasi, Agum Gumelar mengetuk keras. Gemetar. Tanda sidang tertinggi untuk pemilihan ketua, wakil ketua dan komite eksekutif PSSI dimulai. Wajah anggota-anggota komite normalisasi di sampingnya tegang.

Kertas bertuliskan poin-poin tata tertib sudah tergeletak di meja para pimpinan sidang. Tapi belum sempat dibaca, para peserta sidang saling mendahului tunjuk jari. Meminta perhatian dari para pimpinan sidang kongres.

Para peserta mencurigai sekelompok orang yang hadir. Mereka protes orang-orang itu bisa masuk ke ruang sidang. Begitu pun dengan psikologis peserta yang ditumpahkan pada kata-kata.

“Kami tertekan dengan keberadaan personil keamanan yang berlebihan di sini,” kata salah satu peserta dan diamini peserta lainnya.

Mendung kegelisahan menyelimuti ruang Ballrom Hotel Sultan sore itu. Hujan interupsi pun tak bisa dihindari.

Akhirnya intrupsi meruncing menjadi protes peserta. Kelompok dominan pemilik suara sah protes pada para pimpinan sidang atau komite normalisasi.

“Kenapa nama George Toisutta dan Arifin Panigoro tak masuk dalam daftar pencalonan?” tanya salah seorang peserta.

Kedua nama itu muncul dalam Kongres PSSI sebelumnya di Pekan Baru, Riau. Pasangan George dan Arifin diyakini mayoritas pemilik suara sah bisa mengubah sepakbola Indonesia pasca dipimpin Nurdin Halid. Kelompok pemilik suara mayoritas ini kemudian menamai diri mereka sebagai Kelompok 78.

Sayangnya, Kongres PSSI di Riau Maret lalu berakhir ricuh. Komite Banding tak meloloskan empat calon ketua: Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, termasuk George dan Arifin. Kongres akhirnya dibatalkan dan FIFA turun tangan. Dalam hal ini, FIFA berpegang pada keputusan Komite Banding Pemilihan yang tidak meloloskan keempat calon tersebut. Komite Normalisasi sebagai penyelenggara, juga tetap pada keputusan FIFA.

“Nama George dan Arifin dicoret sebagai calon ketua karena telah ikut andil dalam penyelenggaraan Liga Primer Indonesia, sebagai tandingan dari PSSI. Dalam hal ini, FIFA sangat tabu dengan liga nasional yang tak masuk dalam struktur FIFA (LPI-red),” kata Perwakilan FIFA, Thierry Regenass di Kongres PSSI II yang berlangsung di Ballroom, Hotel Sultan.

Semua peserta hening, dengan emosi tertahan. Lalu, seorang peserta membawa buku statuta FIFA. Dia ngotot karena FIFA dianggap melanggar statutanya sendiri.

“Dalam statuta FIFA harus menghormati pemilik suara mayoritas. Mereka tidak berhak melarang seseorang untuk mencalonkan diri,” katanya.

Ramai lagi.

Perdebatan terus terjadi. Akhirnya, Agum Gumelar dan jajarannya putus asa. Enam jam berlalu, atau sekitar pukul 20.50 WIB, Kongres ditutup tanpa hasil.
“Dengan mengucapkan Alhamdulillah dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, sidang ditutup,” ujar Agum sambil mengetuk palu.

Bayangan tentang masa lalu tiba-tiba melintas. Sudah lama sekali Prestasi Sepakbola Indonesia membeku. Prestasi terakhir 20 tahun lalu, saat piala juara pertama SEA GAMES diboyong dan diciumi. Itu sejarah kebanggaan yang mungkin sengaja dilupakan jajaran elit sepakbola Indonesia, karena diselimuti kepentingan politik. Tapi kenyataannya semua orang tetap merindukan masa-masa kejayaan itu meski enam jam tanpa hasil. (ham)

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: