Mencipta Kota Bebas Bising

Di Jakarta, tak ada lagi tempat yang terlindungi dari polusi kebisingan. Suara bising, akan ditemui dari tempat bekerja hingga kantong celana. Patokannya, bila suara tersebut melebihi suara pengering rambut, artinya sudah gawat buat telinga. Sayangnya, banyak yang belum menyadari bahaya dari polusi kebisingan.

[Untuk gatal-gatal, Bapak Ibu yang sudah menahun. Sekali lagi, bapak-ibu yang terkena penyakit kulit. Bapak ibu, yang terkena gatal-gatal.]

[Stand up: Pasar Kebayoran Lama, di kawasan Jakarta Selatan termasuk ruang publik yang terdapat banyak sumber polusi kebisingan. Mulai dari bising kendaraan bermotor, aktivitas para pedagang, hingga kebisingan dari deru mesin kereta api. Dan Sodara, saya akan menelusuri Pasar Kebayoran Lama ini.]

Di bawah jembatan layang Pasar Kebayoran Lama, berderet pedagang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Yang paling banyak menyumbangkan kebisingan adalah pedagang cakram padat, CD.

Di salah satu lapak penjual CD, dua pengeras suara diarahkan ke jalan. Pedagangnya duduk di depan pengeras suara tersebut. Ia memutar video konser musik dangdut. Di layar tampak artis dangdut bergoyang.

Di bawah jembatan layang Kebayoran Lama ini sedikitnya ada 10 pedagang CD. Kalau mau berbincang, mau tak mau harus saling berteriak. Beradu dengan suara musik.

[(sambil teriak) (Bang selain di sini. Pasar mana lagi yang ramai?) Inpres. Apa bang? Inpres di belakang sana.]

Berdasarkan penelitian dari Universitas Indonesia, satu dari sepuluh orang yang berkerja di pusat kebisingan mengalami gangguan pendengaran. Gangguan pada telinga bagian dalam ini bersifat permanen dan tak dapat disembuhkan. Tanpa disadari, perlahan tapi pasti, sensitifitas pada suara akan berkurang.

Kepala Pusat Kesehatan Telinga dan Gangguan Komunikasi Fakultas Kedokteran UI, Ronny Suwento.

[Jadi kalau bising itu, ada yang kerusakannya masih sifatnya sementara. Jadi, ada kerusakan yang kalau kita beristirahat nggak denger bunyi keras sampai 14 jam, dia bisa pulih lagi. Tapi kalau itu berulang-ulang. Itu tak akan pulih lagi. Menetap. Nah kalau udah menetap nggak bisa disembuhkan. Ya mesti pakai alat. Masalahnya mau nggak pakai hearing aid umur 30, kalau pakai kacamata kan kelihatannya gaya kan. Kalau pakai hearing aid dikatain orang. Masih muda, udah bolot, gitu yah.]

Sayang tak banyak yang sadar akan bahaya suara bising. Menurut Ronny, ada sejumlah tempat yang beresiko merusak pendengaran. Mal, jalan raya, pasar tradisional, diskotik, tempat rekreasi anak, panggung pertunjukan musik hingga bandara dan stasiun kereta.

Di belakang Pasar Kebayoran Lama, Nani berjualan di pinggir stasiun kereta api. Dalam sehari puluhan kereta api lalu lalang, menempuh rute Parung-Kota. Belasan tahun berjualan di sana, Nani tak sadar kalau suara-suara itu terlalu bising.

[Karena saya nggak terganggu masalahnya. Tau kalau ada orang baru dari kampung, ada paman dari kampung. Gak kuat, berisik. Ngga kuat saya di sini. Kalau di sini sudah biasa tuh. Karena di sini dari bayi. Nggak pernah ke dokter saya karena pendengaran. Anak saya juga nggak ngeluh. Tapi kalau orang lain, kalau orang belakang main. Kok kamu nggak berisik? Ya, karena udah terbiasa.]

Sementara, Hadi Jatmiko yang bekerja selama 5 tahun sebagai petugas keamanan Stasiun Kebayoran Lama merasa pendengarannya baik-baik saja. Tapi ia mengaku sadar akan resiko tuli jika terus bekerja di sini.

[(Suara kereta itu masuk dalam suara yang bisa merusak pendengaran. Bapak sudah tahu itu belum?) Oh selama ini belum yah. Karena saya nggak merasa terganggu tuh. Belum merasa terganggu telinga saya, tetap. Isteri saya anak saya atau temen saya ngobrol tetap saya dengar. (Terus kalau dari kantor itu, ada nggak memberikan himbauan untuk pekerja lapangan kayak gini itu menggunakan, alat buat peredam suara buat telinga?) Belum ada tuh pak. Ya, kalau ada lebih bagus. Tapi selama ini belum ada.]

Polusi suara tak hanya terjadi di ruang publik seperti pasar dan stasiun kereta api. Ruang privat pun bisa jadi sumber kebisingan. Seperti pemakaian earphone sambil mendengarkan musik dari telfon genggam.

Diah Ayu Hindriani termasuk sering melakukannya. Sejak membeli telfon genggam yang bisa memutar radio 5 bulan lalu, ia bisa tekun berjam-jam memakai earphone. Membunuh rasa bosan perjalanan dari rumah menuju kampus.

[Digunainnya kalau lagi perjalanan aja. Jadi kalau dirumah nggak digunain, jadi kalau berangkat kuliah digunain. (Terus selama ini ada gangguan nggak seperti suara bising saat melepas alat ini?) Selama ini sih baik-baik aja. Tapi bukan ke pendengaran, tapi kupingnya sakit nih. Bagian bolongannya itu, jadi kalau kelamaan atau keseringan jadinya sakit gitu. Jadi kalau pendengaran sih belum.]

Sejak telinga bagian luarnya terasa sakit, Diah tak lagi mendengarkan musik dari earphone.

[Stand up: Satu jam saya berdiri di perempatan jalan—yang menghubungkan, Jalan Pramuka, Jalan Matraman dan Salemba di kawasan Jakarta Timur. Ketika saya membekap kedua kedua telinga saya, saya mendengarkan suara berdesing. Ini menurut kesehatan telinga, di mana pendengaran seseorang terganggu. Dan sodara, di sinilah pusat kebisingan di jalan raya. Dan, banyak sekali sumber suara. Mulai dari suara knalpot motor yang telah dimodifikasi, sampai suara klakson mobil yang berbunyi keras secara bersamaan. Dan menurut anjuran kesehatan telinga, setidaknya butuh waktu 14 jam untuk memulihkan pendengaran orang-orang yang berdiam diri selama satu jam, di pusat kebisingan jalan raya seperti ini.]

Di tempat yang sama, Zainal tampak sibuk berjualan lem besi di bawah lampu merah. Ia tak lagi menghiraukan suara bising yang keluar dari knalpot kendaraan.

[(Selama ini nggak terganggu sama suara-suara yang ada di sini?) Ya, beginilah di jalanan abis bagaimana gitu. Yang namanya dijalanan pasti berisik-berisiklah. (Cepet marah nggak denger suara-suara ramai kayak gini?) Kan ini kemauan sendiri. Ya, kerjaannya kayak gini, ya udah kita terima aja apa adanya. Gitu.]

Mestinya, masyarakat yang bersinggungan dengan kebisingan seperti ini dibekali dengan alat pengaman pendengaran. Sebab telinga punya ambang batas keamanan terhadap suara.

Catatan Kementerian Kesehatan, waktu pendengaran perlu dibatasi jika volume sumber bunyi melebihi suara mesin pengering rambut atau alat penyedot debu. Menurut satuan ukuran, mencapai 90 desibel. Batas kemampuan telinga terhadap suara kendaraan lalu lintas pun dibatasi hanya sampai 15 menit.

Ketua Persatuan Masyarakat Asia Tenggara Peduli Pendengaran, Bulantrisna Djelantik.

[Bunyi percapakan manusia itu, kalau kita berbicara pelan itu sekitar 30 desibel. Kalau kita berteriak itu 60 desibel. Kalau kita berada di dalam suatu toko, atau mall atau pasar, yang bising. Di mana kita tak bisa dengar, berarti lingkungan kita itu lebih daripada itu. Berarti sudah 70 desibel ke atas. Dan tempat itu berbahaya untuk telinga kita. Gejala yang bisa dirasakan oleh seseorang, yang pertama kalau berlama di tempat bising, dia akan menjadi agak tuli, itu tidak permanen. Kedua, telinganya berdenging, itu sudah tanda bahaya.]

Yang terancam tak hanya telinga, tapi juga masa depan seseorang.

Lima tahun lalu, 70 dari 200 siswa sekolah gagal mendapatkan tiket bekerja ke Jepang karena kualitas pendengarannya menurun, kata Bulantrisna.

[Saya pernah memeriksa murid-murid STM mesin, yang mendapat pekerjaan di Jepang. Tapi alangkah sedihnya, ketika sepertiga dari mereka, tak bisa ke Jepang, hanya karena gangguan dengar, sudah menurun pada frekuensi tinggi, akibat dari sekolahnya sendiri. Karena selama mereka praktikum 3 tahun sekolah, mereka harus memutar mesin yang keras di ruangan tertutup. Sedangkan telinga mereka tidak dilindungi. ]

Mungkin polusi kebisingan ini terdengar sepele. Tapi jika dibiarkan, bisa berbahaya. Ketua Komisi Nasional Pencegahan Gangguan Pendengaran dan Ketulian, Damayanti Soetjipto mengatakan, pemerintah berarti sengaja menuai generasi tuli di kemudian hari.

[Ya, kalau masyarakat belum menyadari, terpapar bising. Akhirnya tuli. Anak-anak remaja pakai I-Pod yah, dengan earphone kemudian mendengarkan musik di mana-mana dengan keras. Nah, kalau dalam jangka waktu lama, itu merusak pendengaran mereka. Nanti kalau mereka dewasa, mereka tuli, ya sulit mendapat pekerjaan. Kita ingin menyadarkan masyarakat. Awareness mereka. Jadi, kalau ada suara bising, mereka bisa menghindar.]

Pengamat sosial Soe Tjen Marching melihat polusi kebisingan dari sudut pandang kekuasaan. Menurut dia, orang yang paling keras bersuara adalah orang yang paling berkuasa. Kata perempuan yang juga sudah menahun berkecimpung di bidang musik ini, gaya hidup seseorang ikut menentukan keras suara yang ia kendalikan.

[Di masyarakat sendiri, semakin keras semakin keren. Knalpotnya sepeda motor. Semakin keras katanya semakin keren. Semakin bergengsi, jadi semakin bergaya kan.]

Soe Tjen Marching menekankan pada pentingnya pemerintah membebaskan masyarakat dari bahaya kebisingan. Sejumlah negara di Eropa dan Amerika sudah melakukan itu. Di Amerika misalnya, polisi sudah memiliki alat pengukur volume suara. Jika ada warga yang berisik dan kadarnya melewati ambang batas, maka akan ditindak secara hukum. Sementara buruh pabrik, tambang, maupun pekerja lapangan, wajib mengenakan alat pengaman pendengaran.

Di Indonesia, ada Masyarakat Bebas Bising. Komunitas ini berniat menguatkan kembali sejumlah kebijakan untuk mengatur tingkat kekerasan suara. Misalnya aturan batas kebisingan di kawasan permukiman, pabrik atau di bandara. Seperti yang diatur dalam peraturan menteri ketenagakerjaan.

Anggota Masyarakat Bebas Bising, Abduh Azis menuturkan aturan ini sama pentingnya dengan aturan pembenahan polusi udara.

[Departemen Tenaga Kerja punya aturan, ambang batas di pabrik untuk para pekerjanya. Transportasi juga demikian. KLH juga punya. Persoalannya kemudian tidak ada upaya monitoring dan pemberian sanksi bagi yang melanggar. Kedua, mungkin saja belum ada regulasi yang dibuat dalam hal itu. Contoh soal misalnya, belakangan ini banyak sekali keluhan terhadap kebisingan transportasi. Kalau udara sudah ada standar uji emisi dan segala macam, tapi kalau suara kan belum.]

Saat ini Pemerintah Jakarta tengah menyiapkan Peraturan Daerah Rancangan Tata Ruang Wilayah, RTRW, untuk pembangunan kota 20 tahun mendatang. Nantinya bakal diatur penciptaan tata ruang yang bisa ikut menekan kebisingan. Misalnya, dengan wajib menanam pohon di wilayah sumber polusi kebisingan, sebagai peredam suara.

Kepala Sub Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jakarta, Benny Agus Chandra.

[Kalau sekarang itu memang tidak diatur secara spesifik. Tapi menurut saya itu satu hal yang baik, bahwa kita harus menginikan kebisingan, minimal arahannya masuk di RTRW. Itulah salah satu bagian kenapa kita masih meminta masukan dari masyarakat. Masyarakat bising.]

[Suasana pasar lagu dangdut jedar-jeder]

Mereka yang setiap hari bersentuhan dengan suara keras seperti ini mungkin sekarang tak merasa ada yang salah dengan pendengaran mereka. Tapi tunggu nanti, 5 hingga 8 tahun lagi.

Telah diposting sebelumnya http://www.KBR68H.com

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: