Warung Jaipong

Pertunjukan Jaipong di kolong jembatan ini sudah bertahan lebih 40 tahun, di dekat Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Dari tengah malam sampai dini hari, tarian khas Sunda, Jawa Barat ini digelar, ditonton masyarakat lapis bawah yang menikmati kebudayaan tradisional. Puluhan penari, sinden dan pemain musik tradisional, menggantungkan hidup di sana. Reporter KBR68H M. Irham ikut menari jaipong untuk menyusun laporan ini.

Riuh pedagang menawarkan barang membuat siang terasa makin panas. Tunggulah sampai pukul 11 malam, suasana akan berubah drastis. Aktivitas berdagang, berganti.

Mulai tengah malam, silakan menonton pertunjukan jaipong di tempat yang unik.

STAND UP: Kelompok tari Mekar Bunggaran melakukan pertunjukan seni tepat berada di kolong jembatan. Letaknya tak jauh dari Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Bila ingin berjalan dari stasiun, sekitar setengah kilometer. Dan di kiri kanannya adalah warung kelontongan, penjual minuman, makanan nasi, dan jenis cemilan, seperti roti, chiki. Biasanya di samping warung yang sudah ditutup banyak yang menjual, seperti kunci, sepatu, pakaian, dan di depannya itu ada bengkel sepeda. Tepat berada di sisi jalan lainnya, ada WC Umum, dan ada warung kelontong milik Mami.

Warung Jaipong Mekar Bunggaran dikelola Mami Atun, 47 tahun. Sangat mudah mengenali Mami Atun dari kejauhan. Ia berambut pendek, mata besar, dan bertubuh gempal. Saat itu ia memakai daster, duduk di dalam warung kelontong, sambil sesekali mengawasi persiapan pertunjukan Jaipong. Mami Atun bukan pemilik asli kelompok jaipong ini. Kelompok yang sudah pentas sejak tahun 1960-an, baru diambil alih Mami sejak 15 tahun lalu.

MAMI: Kalo nama di KTP itu, Kanem. Kalau Mi Atun itu kan almarhum itu Pak Atun. Jadi, kebawa semua, Mi Atun. Ke Jakarta itu tahun 77 deh. Terus pas kawin langsung, diam di sini di jembatan Jatinegara. Pertama, saya dagang loak, terus Bapaknya ngejait macem-macemlah, jait sepatu bekas. Nah, terus kan ada jaipongan, orang. Saya ngikut-ngikut dagang. Warung kopi kecil-kecilan. Nasi, mie. Setelah itu, orang di Jaipong ini kan udah pada tua. Terus dia mau jual tempat ini, terus saya beli. Daripada ambil dari orang luar, mending saya yang beli. Kalau saya, pegang jaipongannya belum lama. Tapi kurang lebih bangsa 15 tahun deh. Terus Bapaknya sudah nggak ada. Udah ditinggal selama 5 tahun. Iya, waktu pertama buka, ini namanya rombongan Mekar Bunggaran. Iya, bunga mekar. Kalau Mekar itu baru pembukaan, pembukaan pertama baru belajar. Ya, Alhamdulilah belajar itu bisa jalan 15 tahun, sampai 16 tahun jalan deh.

Kata Mami Atun, hiburan malam yang ia kelola rawan dicap jelek oleh masyarakat dan kepolisian. Dituding tempat prostitusi terselubung, atau tempat penjualan narkoba. Padahal Warung Jaipong Mekar Bunggaran semata menghibur para pengunjung yang penat dengan rutinitas hidup. Tapi, untuk jaga-jaga, Mami Atun mengambil surat izin yang dibingkai, dan dipasang di salah satu dinding Warung Jaipong.

KBR68H: Mi, boleh minta bacain?
MAMI: Kagak bisa baca.
KBR68H: Jadi ini, digantung di salah satu dinding tempat manggung.
MAMI: Kalau sewaktu-waktu ada pemeriksaan saya kasih tau ini.
KBR68H: Ijin pertunjukan kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Timur, dengan ini memberikan tanda daftar organisasi kesenian, nama organisasi grup Mekar Bunggaran, alamatnya di Jalan Pisangan Lama I, RT 002, RW 06, Kecamatan Pisangan Baru, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Jenis kegiatan tari jaipong atau kliningan.

Rombongan Mekar Bunggaran pun pernah mendapat penghargaan pelestarian kebudayaan di Jakarta Timur dari Walikota pada 2006. Penghargaan itu dibingkai dan ditempel bersama surat ijin.

STAND UP: Dan, satu jam sebelum pertunjukan dimulai, sejumlah penari jaipong dan sinden, sudah berada di sekitar warung pentas. Mereka tampak duduk santai, dan sesekali ngobrol satu dengan yang lainnya. Dan satu jam sebelum pertunjukan dimulai, Anda mendengarkan beberapa kendaraan melintas di depan pentas. Dan tempat pentas itu, di atapnya terdapat lampu berwarna-warni seperti lampu disko. Panggungnya, alasnya dilapisi kain berwarna merah dan putih. Dan, di dindingnya ada jam, bendera Indonesia. Alat musik sudah bersedia, di situ. Mulai dari Gendang, ada organ tunggal, gong, dan ada knong juga.

Pukul 11 malam. Tujuh penari jaipong dan sinden yang sedari tadi duduk-duduk, mulai naik ke atas panggung. Dengan riasan wajah yang tebal, para penari tampak asik bergoyang mengikuti irama. Kebaya yang dipakai juga berwarna terang, makin berkilau dengan hiasan payet yang tertimpa sinar lampu.

Lepas tengah malam, pengunjung makin ramai. Dari belasan yang datang, Yahya terlihat asik menikmati lagu yang didendangkan para sinden. Warga Cirebon, Jawa Barat ini pengusaha batu taman, rajin datang sebulan sekali untuk menonton jaipong sejak lebih 10 tahun silam. Ia merasa nyaman berkunjung ke Warung Jaipong Mekar Bunggaran karena bebas dari praktik prostitusi.

YAHYA: Jadi begini, saya tuh, satu di sini tuh nyaman. Jadi kalau di tempat diskotik atau.. arah ke sananya kurang baik gitulah. Tapi kalau di sini, istilahnya kita minum juga untuk hiburan. Denger lagu-lagu, sekedar itu aja. Misalnya pulang pagi, kalau isteri udah tau karakter saya. Karakter saya ini nggak merugikan kebutuhan yang ada, yang penting bisa dibatasi dengan waktu, mana waktunya kerja, mana waktunya hiburan. Tapi kalau kita dimarahin sama isteri, itu bicarain sejujurnya, jadi kita jangan anggap tempat hiburan itu salah.

Kebanyakan pengunjung sudah kenal jaipong kolong jembatan ini sejak berpuluh tahun silam. Sujais masih ingat 20 tahun lalu, ketika ia pertama kali datang ke Warung Jaipong Mekar Bunggaran. Lelaki yang berstatus PNS ini mengaku bisa menghabiskan duit ratusan ribu rupiah tiap kali bertandang ke kolong jembatan Jatinegara.

SUJAIS: Saat itu, kita lagi berkendaraan, dengar kesenian Jawa Barat. Sedangkan saya kan orang Betawi. Nggak ngerti bahasa Sunda. Saya pengen ngerti bahasa Sunda, makanya saya pengen terjun ke sini. Alhamdulilah setelah saya terjun di sini, bergabung bersama sinden-sinden, saya bisa sedikit banyaknya bahasa Sunda ngerti. Walau pun belum 100 persen.
KBR68H: Contohin, pak salah satunya?
SUJAIS: Kita nankan etu, eta saha budak bereum?
KBR68H: Artinya apa pak?
SUJAIS: Itu siapa pakai baju merah, budak bereum. Hahaha.
KBR68H: Kalau nyawer biasanya berapa, Pak?
SUJAIS: Yah, biasanya dua ratus, abis.

Supaya penonton tetap bertahan, pertunjukan jaipong ini meramu musik Sunda dengan musik dangdut. Sesuai selera pengunjung.

Hingga pukul 3 dini hari, pengunjung mulai nyawer atau memberikan uang kepada penari dan pesinden dari bawah panggung. Ratusan lembar uang seribu rupiah diberikan satu persatu lewat tangan para penari. Sesekali pengunjung genit menggengam tangan penari. Tak lebih dari itu.

Jelang matahari terbit, pertunjukan usai. Pengunjung pulang ke rumah. Gemerlap jaipong berganti gerobak sayur yang lalu lalang, juga kendaraan umum. Para penari dan sinden kembali ke tempat tinggal sementara yang letaknya tak jauh dari panggung jaipong. Tempat mereka istirahat dan merias diri. Dari situ, kisah para sinden dan penari berawal.

Satu jam sebelum pertunjukan Warung Jaipong dimulai, tujuh penari dan sinden merias diri sambil berceloteh tentang angan-angan jadi artis terkenal.

Mereka tinggal di sebuah bangunan yang hampir seluruh bangunannya berbahan dasar kayu.
Warga setempat menyebut ini sebagai sanggar Mekar Bunggaran, dihuni sekitar 15 penari dan sinden. Malam Sabtu hingga malam Kamis, mereka tinggal sementara di bangunan yang tak berjendela dan tak bersekat ini. Sementara, Kamis pagi hingga malam Jumat mereka pulang ke kampung masing-masing.

STAND UP: Sanggar Mekar Bunggaran adalah tempat para penari jaipong dan sinden tinggal sementara. Ukurannya 10 kali 5 meter, dinding-dindingnya berbahan kayu, triplek yang dipantek seadanya. Diterangi lampu neon sekitar 40 watt yang sudah diselimuti sarang laba-laba. Dan di dinding ada sejumlah loker kayu kotak tertempel. Tempat para sinden dan penari menyimpan peralatan pertunjukkan mereka.

Mama Ode, sinden Mekar Bunggaran, mulai menyapu alas bedak di wajahnya. Sambil melirik kaca kecil di tangan kirinya, ia menengok ke kanan-kiri pipinya. Memastikan alas bedak sudah merata di seluruh wajahnya. Perempuan asal Karawang, mengaku diajak teman kampungnya bergabung di Warung Jaipong Mekar Bunggaran.

KBR68H: Selama 5 tahun, apa yang membuat Mama Ode bertahan di sini?
MAMA ODE: Karena, untuk membiayai sekolah anak.
KBR68H: Sebelum di sini kegiatannya apa?
MAMA ODE: Ya, sebelumnya, nyinden juga sih. Katanya di sini nggak ada Sinden. Nggak ada vokal. Katanya, Mama Ode ada suaminya, dikasih nggak sama suaminya. Ya, bilang dulu sama suami. Nyuruh nggak apa nggak. Tapi katanya terserah situ. Tapi kata saya dipikir-pikir, masih banyak kekurangan. Belum bayar listrik, butuh segala macamlah di kampung. Banyak. Ya, bukan di sini lebih besar. Kalau di kampungkan musim-musiman. Kalau di sini mah tiap hari ada pemasukan.

Para penari Jaipong dan sinden di Mekar Bunggaran direkrut dari mulut ke mulut. Mama Ode, mengajak Laraswati, 17 tahun, yang berasal dari Bekasi, Cikarang.

KBR68H: Tahu tempat ini dari siapa? Dan udah berapa lama?
LARAS: Temen tuh. Dari Mama Ode, tersayang.
KBR68H: Dulu, kenapa tertarik?
LARAS: Dari kecil aja, suka. Udah hobi. Kakak Sinden, Mama Sinden, keluarga, Bibi, Sinden.
KBR68H: Jadi Laraswati sekedar ikut-ikutan dong?
LARAS: Ya, hobi aja gitu, liat bibi manggung, jadi kepengen.
KBR68H: Cita-cita dari kecil pengen jadi apa?
LARAS: Ya ini, Nyinden. Nggak ada yang lain.
KBR68H: Sekolahnya berarti nggak dilanjutin terakhir, SMP atau…?
LARAS: SD. Di sini ada lima bulan.
KBR68H: SEBELUMNYA NGAPAIN?
LARAS: Ya, gini panggilan keluar. Jaipong.
KBR68H: Dari grup mana?
LARAS: Sama, Bekasi.
KBR68H: Nah, terus kenapa memilihnya di sini sekarang?
LARAS: Ya, banyak temen aja di sini.
KBR68H: Penghasilan?
LARAS: Ya, sepi nggak sepi sih, kalau panggilan di luar kan sehari dua hari. Kalau di sini kan tiap hari. Yah, nggak gede sih, paling gedenya 90. paling kecilnya 20.

Kata Kordinator Rombongan Mekar Bunggaran, Mi’an, total orang yang bekerja di rombongan ini mencapai 30 orang; mulai dari penari, penyanyi dan pemusik. Semua direkrut dari berbagai daerah di Jawa Barat.

MI’AN : Asalnya, ada yang dari Subang, Karawang, ada juga dari Cikarang. Macam-macam lah untuk wilayah Jawa Barat.
KBR68H: Kalau mereka yang kerja di sini ada sistem kontrak?
MI’AN : Kontrak nggak ada, kita bebas tapi teratur. Siapa mau pulang, siapa yang datang. Kita teratur, jangan sampe pada pulang, pulang semua. Ya, teratur. Bisa dibilang aplus lah kalau lagi sedikit.
KBR68H: Berapa minggu sekali?
MI’AN : Ya, kita kan di sini bisa dibilang tiap malam. Kecuali malam Jumat. Waktu libur itu ada. Waktu Kamis pagi itu anak-anak pulang, nah Jumat sore ke sini lagi.
KBR68H: Semuanya pulang?
MI’AN : Ada yang pulang ada yang nggak. Tapi untuk malam Jumat kita tetap libur.

Bekerja di malam hari, tidur dan sedikit beraktivitas di siang hari, jadi resiko para pekerja Warung Jaipong Mekar Bunggaran.

ATMOS: Di sini, siapa yang bangunnya paling siang? | Vivi, hehehe. Bukan paling siang, paling sore. Bangun jam 4. saya mah tidurnya sore, eh, pagi salah deh..

ANITA: Ya, di sini kan siang jadi malam. Malam jadi siang. Kayak mas, ngantuk gitu. Jadi kegiatannya cuma tidur-tidur aja. Paling beres, beres nyuci baju. Kayak gitu. Ya biasa, ngobrol-ngobrol aja, kayak biasa. Soalnya di sini nggak boleh ke mana-mana.
KBR68H: Kenapa nggak boleh ke mana-mana?
ANITA: Ya, mungkin takut kenapa-napa. Namanya di sini sinden, cewek semua, gitu. Takutnya kan nanti pimpinannya yang bertanggung jawab; takut ada apa-apa. Namanya kan di sini tempat hiburan, banyak orang yang suka.
KBR68H: Jadi, cara menjaganya itu, dengan membuat larangan keluar siang?
ANITA: Ya, emang diketatin banget kalau mau keluar. Tapi, kalau mau keluar kita bilang lah mau ke mana.

Para pekerja di tempat hiburan Warung Jaipong kolong jembatan Jatinegara masih dianggap kurang terhormat, cerita Anita Silvia, salah satu penari. Bekas teman sekolahnya di daerah Cikarang, Bekasi, masih ada yang suka mencibir.

ANITA: Ya, sering ngomong juga sih. Ah, cuma sinden, gini, gini, gini. Tapi saya tidak dilihat sindennya, dilihat, bakatnya. Saya cuma pengen ngasah bakat saya. Orang kan bilang, sinden gimana, tempat hiburan. Tapi saya nggak. Tujuannya untuk ngembangin bakat, itu aja.
KBR68H: Tapi untuk menepis gosip ke teman-teman? Toh, dulu pernah punya pacar pernah putus.
ANITA: Hehehe. Pernah sih. Sempet punya pacar terus putus, gara-gara kayak gini. Ya, tapi saya kan di sini pengen sukses ya. Terus kan umur saya masih muda, saya nggak selalu mengutamakan kayak gitu. Ya, intinya saya pengen cari pengalaman dulu di sini, biarin orang-orang mau ngomong apa juga. Di sini kan saya nggak ngapa-ngapain. Di sini tempatnya resmi. Cuma hiburan seni, seni Sunda. Kalau dibanding tempat hiburan lain, masih terhormat di sini sih. Itu kalau yang tau ya. Di sini kan cuma di panggung, yang joget-joget di bawah. Kita paling nyawer, pegang tangan gitu doang.

Pertunjukan seni tari dari daerah bisa dilakukan di mana saja. Asalkan, masyarakat setempat bisa menerima keberadaannya. Mami Atun bercerita, puluhan tahun berjaipong di kolong jembatan Jatinegara, tak pernah ada keluhan dari warga setempat.

MAMI: Nggak ada lagi, kalo bukan dari sini nggak boleh. Ya, nggak tau deh. Pokoknya, dari tahun sekian, sampai tahun ini, itu di sini yang bisa. Di tempat lain, dulu juga orang yang belum sama saya, pernah di Kebon Nanas, pada di demo sama warga. Nggak boleh, jadi di sini jauh dari warga, apa kenapa. Nggak tau deh. Makanya Alhamdulilah, di sini nggak ada apa-apa. Terus warganya pada baik-baik. Terus kepolisian juga nggak pernah.

Warung Jaipong Mekar Bunggaran letaknya sekitar 100 meter dari permukiman warga. Tiap kali pertunjukan berlangsung, puluhan kios-kios pedagang yang mengepung Warung Jaipong sudah tutup. Saat para pedagang pulang ke rumah, dan warga sekitar tertidur lelap, puluhan orang menggantungkan hidup dari pertunjukan di sini.

Pemilik Warung Jaipong, Mami Atun kini bisa mempekerjakan 30 orang. Pelestarian budaya tari Jaipong pun bisa tetap berlangsung, meski pentas di kolong jembatan, bukan di panggung gemerlap.

MAMI ATUN : Kalau kita dari kampung ke sini kan numpang cari makan. Numpang hidup, kasarnya gitu. Cuma bagaimana enaknya aja. Mungkin kan, kalau dari kampung ke sini kan bahasanya, kita nggak mau cari musuh. Cari baik-baik, cari barokah, keselamatan, gitu.

Telah dipost sebelumnya, di Facebook Saga KBR68H

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: