Luka Ruyati binti Sapubi

Sejak menapak kali pertama di Negeri seribu satu malam, Ruyati binti Sapubi tak pernah membayangkan bakal dipenggal.
Pergi ke Arab menjadi tenaga kerja migran adalah harapan. Bisa memperoleh penghasilan materi yang lebih baik untuk kesejahteraan anak dan keluarga. Kesuburan yang terhampar di tanah kelahiran tak bisa diharapkan karena tak becus dikelola negara.

Ini adalah kesekian kali Ruyati bekerja di Timur Tengah. Tapi kepergian terakhir pada 2008, ia menemukan tempat yang tak diharapkan. Bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga Migran, perempuan asal Bekasi ini tak pernah digaji. Siksa yang datang dari majikan makin bertubi-tubi. Kabar terdengar, kakinya patah akibat didorong majikan. Derita yang ia pikul sendiri. Tak mau mengadu kepada keluarga bila tak dipaksa untuk menjawab.

Sebelumnya, anak-anak keberatan Ruyati akan bekerja lagi ke luar negeri. Pasalnya, usia lebih dari setengah abad. Menurut anak kedua Ruyati, Epi Kurniati (27), ibunya memaksa pergi ke Saudi karena tidak ingin menyusahkan anak-anaknya di masa tua nanti.

Sejak Ruyati di penjara awal 2010, perusahaan jasa pengiriman TKI tak pernah memberi kabar tentang nasibnya. Keluarga justru menerima kabar Ruyati dari seorang TKI asal Lampung bernama Marni. Kabar terakhir, diterima keluarga dari kementrian luar negeri, satu hari setelah eksekusi penggalnya. Kabar itu membuat gempar anak dan cucu Ruyati. Mereka sedih dan kecewa dengan pemerintah.

Kementrian Luar Negeri mengaku pengadilan Arab tak memberi tahu jadwal eksekusi pancung Ruyati. Kemenlu segera kirimkan surat protes ke Kedutaan Arab di Jakarta. Tapi protes itu sudah terlambat. Keluarga harus kehilangan Ruyati untuk selama-lamanya.

Proses hukum

Selama hukum Ruyati berjalan, tak satu pun pihak terkait; kementrian tenaga kerja dan kementrian luar negeri yang memantau. Tak ada pendampingan hukum dari pemerintah. Ia sendirian. Uang yang pernah ia setor ke pemerintah sebagai jaminan hukum pun tak tahu kemana rimbanya. Padahal uang itu disetor tiap TKI yang akan bekerja di luar negeri, sebagai jaminan bantuan hukum dari pemerintah bila satu waktu terjerat kasus hukum. Ruyati tak dapat. Inilah yang kemudian disebut LSM Pemerhati Buruh Migrant Care sebagai keteledoran pemerintah.

Migrant Care mengaku pernah berkali-kali mengingatkan pemerintah terkait proses hukum Ruyati. Tapi tak pernah ditanggapi. Disebut teledor, ini bukan kejadian pertama, kasus eksekusi mati juga pernah terjadi terhadap Yanti Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur. Bahkan hingga kini jenazah Yanti Iriyanti belum bisa dipulangkan ke tanah air atas permintaan keluarganya. Atas kejadian ini, harus ada yang bertanggung jawab!

Syariah Islam Dan Eksekusi Keji

Eksekusi keji yang diatur di negeri Arab itu membuat masyarakat Indonesia sedih sekaligus geram. Tapi itulah hukum syariah Islam Arab Saudi, yang bagi kelompok tertentu ingin diterapkan di Indonesia. Pemancungan di provinsi Mekah di Saudi barat itu membuat jumlah eksekusi di kerajaan yang sangat konservatif itu tahun ini menjadi 28 orang. Jumlah itu sama seperti jumlah semua orang yang dieksekusi pada sepanjang 2010. Kelompok Amnesty International yang bermarkas di London pekan lalu minta pada Arab Saudi untuk berhenti melaksanakan hukuman mati. Pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata semuanya dapat dihukum dengan hukuman mati menurut interpretasi keras hukum syariah Islam Arab Saudi.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, nyawa yang hilang tak bisa kembali pulang. Perlu ada evaluasi dari pemerintah atas kejadian ini. Ruyati binti Sapudi (54) meninggalkan tujuh orang cucu dan tiga anak yang semuanya sudah berkeluarga. Ibu yang pernah bermimipi membeli angkot ini kandas, karena…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: