Kurcaca-Kurcaci dan Lingkaran Hitam

Seorang jompo menggaruk koreng sambil mempersiapkan makan malam untuk anak dan cucu. Di kolong jalan tol, ia berjalan merambat. Piring-piring besi berkarat perlahan diisi dengan nasi aking. Ikan teri dan tempe adalah lauk pauknya.

Tak lama, si pincang pulang dari menjual ikan. Ia adalah anak si jompo. Kaki diamputasi saat kecelakaan bekerja sebagai kuli bangunan, 10 tahun lalu. Keringat di dahi ia usap saat tiba di depan gubuk. Kain kumal disibak. Senyum kecil si Jompo menyambut.

Si cucu menyusul pulang, tapi tidak langsung makan. Ia sudah makan ditraktir supir, yang juga bosnya. Makanan disisakan untuk besok pagi, tak lupa si jompo menghangatkan kembali. Si jompo kembali tersenyum, masih bisa bertahan hidup untuk besok.

Di antara sampah, gubuk dari kardus dan plastik berdiri bungkuk. Puluhan tahun berdiri, terus dihantui penggusuran. Gesekan kardus dan plastik menimbulkan suara berisik bila tertiup angin malam. Mengusik tidur siapa saja. Si jompo, anak dan cucunya tidur bersama diselimuti hitamnya hari.

Deru mesin barisan mobil besar membangunkan mereka dari mimpi. Matahari bergerak lambat, sinarnya terhalang angkuh tembok jalan tol. Bau sampah kembali menusuk hidung. Membuat siapa saja meludah.

Si pincang telah menyiap tentengan ikan untuk dijual. Si cucu bergerak meninggalkan gubuk dengan handuk kecil melilit di leher. Si jompo merambat menuju kamar mandi di depan gubuk, memeriksa air bersih yang tersisa.

Sebelumnya, hasil kerja anak dan cucu kemarin disetor pada si jompo. Sekitar 20 ribu rupiah diterima tangan si jompo. Tak ada sisa untuk kesehatan atau pun masa depan. Kesehatan dan masa depan diserahkan sepenuhnya pada sang pencipta, lewat mimpi malam tadi.

Kehidupan ini adalah salah satu potret keluarga di kolong jalan Tol Tanjung Priok, Jakarta Pusat. Kehidupan ini tak akan terjamah di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Mesin-mesin usaha yang terus bekerja untuk pencapaian untung yang tak ada habisnya.

Sayang, kehidupan si jompo, anak dan cucunya dianggap pemerintah bukan sebagai potret kehidupan orang miskin. Sebelumnya, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan, Lukita Dinasyah mendefinisikan orang miskin adalah orang yang berpenghasilan di bawah Rp. 7.000/hari. Sementara keluarga si jompo sudah bisa menghasilkan uang Rp. 10.000/hari.

Dengan patokan itu, pemerintah mengklaim angka kemiskinan terus merosot. Ini karena ketersediaan lapangan pekerjaan dan program kemiskinan dari pemerintah. Dalam 3 tahun terakhir, pemerintah mengklaim angka kemiskinan turun dari 15,4 persen pada 2008 menjadi 11,5 persen di 2011. Angka tersebut setara dengan 28,75 juta jiwa orang miskin bila total penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa.

Pada angka 28,75 juta, keluarga si jompo tak masuk hitungan, karena mereka berpenghasilan 20 ribu perhari. Inilah hitung-hitungan yang paparkan di hadapan dunia sampai pelosok negeri. Keangkuhan menentukan angka kemiskinan dengan mematok penghasilan Rp. 7.000/hari, membawa citra yang baik pada pemerintah.

Angka kemiskinan tersebut terpaut jauh dari penghasilan yang dipatok Bank Dunia, sebesar 2 dolar/hari. Angkanya setara dengan Rp 18.000/hari. Itu pun patokan yang dilakukan beberapa tahun lalu, yang sudah tak relevan bila inflasi terus merangkak naik dari tahun ke tahun.

Lebih tragis lagi, Badan Pusat Statistik mencatat provinsi termiskin di Indonesia pada 2010 adalah Papua, diikuti Papua Barat, Maluku, Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur. Padahal, daerah-daerah tersebut subur dengan sumber daya alam. Emas, ikan dan sayur-sayuran.

Rakyat Indonesia adalah kumpulan pekerja keras yang cerdas. Bukti kecerdasan anak bangsa adalah kejuaraan olimpiade di dunia internasional. Bukti kerja keras adalah kegelisahan saat tak bisa berbuat apa-apa. Tapi banyak dari mereka yang dibungkam dengan status pendidikan. Sementara, harga pendidikan terus melambung ke langit.

Sekarang, menjadi budak dan penjahat adalah pilihan tak terelakan, akibat harga pendidikan yang tak terjangkau dan peluang kerja yang makin sempit. Bekerja apa pun bisa dilakukan. Demi anak-isteri. Demi sesuap nasi. Menjadi maling, perampok, penipu, kuli, buruh, memulung, dsb. selalu begitu. Turun temurun tak ada habisnya, sejak jaman penjajahan dalam lingkaran hitam.

Mereka mau menangis, tapi tak bisa. Mengeluh, semua tutup telinga. Tak bisa berpikir lagi untuk nasib sendiri. Saling gebuk satu sama lain. Wadah keluhan mereka (partai politik) adalah tempat paling busuk untuk mengadu. Sementara, kegelisahan terus meradang. Saya masih percaya, sebagian orangtua-orangmuda sudah merenungkan negeri ini. Mereka akan terus mencari tahu bagaimana mendorong matahari untuk segera terbit, memutus lingkaran hitam.

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: