Yang Menanti di Kolong Jembatan

Puluhan jompo di kolong jalan Tol Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menghabiskan sisa hidup mereka bersama kemiskinan dan kesendirian. Mereka hidup di bawah bayang-bayang penggusuran, dan serangan penyakit. Keberadaan mereka dianggap tak berguna, juga kerap luput dari perhatian masyarakat dan pemerintah. Para jompo yang tinggal tak jauh dari kawasan kompleks elit Sunter, Jakarta Utara, seakan tak punya pilihan selain menunggu ajal untuk melepas penderitaan.

Lansia kolong jembatan

Nenek Dasma usianya sudah 95 tahun. “Sudah tua saya. Temen saya udah banyak yang pada mati. Saya mau mati, tapi nggak jadi-jadi melulu. Saya disuruh hidup, katanya. Kata mama saya. Jangan girih katanya, jangan girih mati.”

Sambil memasak nasi, Dasma bercerita tentang mimpinya bertemu ibu. Ibunya meminta Dasma tak meninggal dulu, karena masih punya anak dan cucu untuk diurus. Masakan ini pun untuk mereka.

Dasma tinggal di kolong jembatan Tol Pelabuhan Tanjung Priok. Rumahnya terjepit di antara sampah yang menggunung di kolong jalan. Beralas pasir hitam, dinding triplek lapuk dan tirai kumal sebagai pintu masuk. Hanya ada satu ruangan berukuran dua kali dua meter yang dihuni Dasma berserta anak dan cucu.

Seperti siang-siang lainnya, Dasma sendirian di rumah. Anaknya berjualan ikan, cucunya bekerja jadi kondektur. Tubuh Dasma bungkuk, jalannya merambat. Sesekali ia menggaruk bekas luka di kaki. “Tadinya kebakar bensin. Di sini. Botolnya terbuang di sini. Terus meleduk. Kakinya ini terasa kayak digigit semut. Hehe. Capek kayak gini berdiri. Sakit.”

Seorang biarawati datang menghampiri. Suster Goretti memantau kesehatan si nenek. “Bagaimana? Kakinya sudah baikkan sekarang? Oh ya, sudah bagus.” Dasma menyahut, perih, katanya. “Jangan digaruk. Kan mau sembuh kan gatal. Jangan digaruk-garuk,” kata Suster Goretti lagi.

Dasma juga mengeluh sakit pada tubuh yang lain. “Banyak minum. Iya, minum airnya yang cukup,” kata Suster Goretti kepada Nenek Dasma.

Sejak kakinya terbakar tiga bulan lalu, kesehatan Dasma rutin dipantau Suster Goretti. Anak dan cucu hanya bisa memantau kesehatan Dasma menjelang malam atau saat pulang mencari duit.

Suster Goretti juga memantau kesehatan lansia lainnya, seperti Kasem. Rumah Kasem, hanya sekitar dua menit berjalan kaki dari rumah Dasma. Saat itu, perempuan 65 tahun itu sedang duduk di atas balai reyot, sambil memandang kosong pada hamparan sampah di halaman. Asap tipis dari bakaran sampah, melintas di tumpukan karung-karung berisi kardus, gelas plastik dan mainan anak yang sudah rusak. Itu hasil pencarian Kasem semalam, untuk dijual kembali.

“Ya, keseharian begini aja. Cari-cari mainan, kaleng, campur. Ya, bakal makan aja dapat lima belas ribu sehari. Tapi abis, bakal makan, beli air. Berangkat kerja dari sore jam 5an. Pulang jam 12 malem, jam 1 malam. Bangun pagi, sarapan. Kasih makan itu, beli sarapan. Kalau lagi malas ya tidur, tapi kalau lagi mau ya beresin mainan itu, aqua, kaleng. Beresin.”

Duit hasil memulung juga untuk kebutuhan mengurus ibunya, Daisem, usia sudah hampir satu abad. Dihalang tirai kumal, ia hanya bisa duduk di atas pembaringan. Rambut kusut, telajang dada, tak lagi bisa bicara. “Sudah nggak bisa jalan. Paling makan-tidur-makan-tidur. Kemarin abis saya mandiin. Ya, namanya juga udah jompo. Ya, saya terpaksalah urusin orang tua. Ya, ga apa-apalah, namanya orang tua sama anak, begitulah.”

Kesehatan Kasem dan Daisem juga dipantau tiap hari. Bila sakit, Suster Goretti yang mengantar mereka ke rumah sakit.”Ya, kalau berobat ini, kita lewat Puskemas terlebih dahulu. Nanti di rujuk ke mana. Itu sudah ada prosedurnya. Tapi soal kelengkapan, agak kesulitan. Kadang lansia ini tak punya surat-surat yang lengkap. Itu kalau yang mau proses ke rumah sakit yang besar.”

Kehidupan Kasem dan Daisem juga jadi perhatian tetangganya. Saedi, pedagang nasi bungkus keliling, kerap berbagi rezeki dengan kedua lansia ini. “Bagi-bagi. Saya makan, dia makan. Saya punya, dia saya kasih. Ya, saling membantu aja. Kita kan kebetulan lagi ada rezeki. Namanya kita bertetangga, lihat nenek sudah tua, ya kita nggak tega. Prinsipnya, bagi-bagi rezeki.”

Saat ini, ada sekitar 40 jompo di kolong jalan Tol Pelabuhan Tanjung Priok atau di tepi Danau Sunter, Jakarta Utara, yang jadi perhatian Suster Goretti. Para jompo, tinggal di atas tanah pemerintah, tak jauh dari kawasan elit Sunter Permai.”Ini mereka tinggal di tepi danau ini, dari sini sampai ujung sana. Ya, bangunan mereka liar. Ya, kalau dilihat, di seberang sana dengan sini seperti bumi dan langit. Ya, kehidupannya sangat jauh berbeda. Di sana kan, daerah Sunter. Kan kawasan elit.”

Dia diterjunkan untuk membantu lansia di kolong tol ini. Siapakah Suster Goretti?

Pondok Ozanam

Sekretariat Pondok Ozanam berada di Jalan Papanggo IV, Warakas, Jakarta Utara. Pondok yang dihuni dari Suster-suster Puteri Kasih Santo Vincentius a Paulo, tepat berada di depan Musholla An Nur. Pagar bangunan pondok berwarna abu-abu, berlantai dua. Bila dilihat dari luar sini, di dalam ruangan tampak sejumlah karung berisi baju bekas, beras, minyak goreng, mie instan.

Ozanam adalah nama seorang pengikut Katolik yang lahir di Milan, pada abad 18. Dia mendirikan Serikat Santo Vincentius, yang kini anggotanya lebih dari 1 juta di seluruh dunia. Misinya adalah kemanusiaan. Pondok Ozanam di Papanggo berdiri sejak 1998, melayani bimbingan belajar bagi warga miskin, sembako murah, hingga layanan kesehatan pada lansia.

Saat itu, ruangan di Pondok Ozanam ramai ibu-ibu. Delfina, salah satu relawan Pondok Ozanam sedang mengemas sejumlah kebutuhan bahan pokok. “Kalau sumbangan itu, donaturnya nggak tetap. Jadi nggak itu-itu saja. Jadi bagi siapa aja yang mau ambil bagian silahkan. Seperti memberikan sumbangan bulan, untuk nenek-nenek makan itu ada.”

Kegiatan sosial di Pondok Ozanam juga melibatkan warga setempat. Tangan Fauziah tampak belepotan saat memasukkan minyak goreng ke dalam botol. Perempuan berjilbab ini ikut beraktivitas sejak Pondok Ozanam berdiri. “Ini lagi bungkusin sembako, buat orang-orang yang wajib mendapatkan,” katanya. Fauziah sudah terlibat di kegiatan Pondok Ozanam sejak 1990-an, karena ingin berkegiatan sosial.

Lebih dari 150 bungkus sembako murah sudah siap dibagikan esok hari pada warga miskin di kawasan Papanggo, Warakas, Jakarta Utara. Pembagian sembako murah ini, dilakukan sepekan sekali. Termasuk diberikan pada puluhan lansia di kolong tol Jalan Pelabuhan Tanjung Priok.

Di ruang terpisah, Suster Goretti tampak sedang membungkus nasi dan lauk pauknya. Suster Goretti adalah salah satu pengurus Pondok Ozanam. Bersama suster lainnya, mereka siap membawa makanan itu ke kawasan kumuh kolong jalan tol Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka akan memberi makan para jompo di sana.

Suster Goretti dilahirkan dari orangtua yang berbeda agama. Di keluarganya, keberagaman dan kebebasan berkeyakinan sangat dihargai. Hingga pada akhirnya, 16 tahun silam, ia menetapkan diri sebagai suster, dan bekerja untuk kemanusiaan. “Keluarga itu sangat menghargai keberagaman. Ya, rasa toleransi itu cukup besar. Ya cukup mendukung. Mungkin ada saudara jauh, satu-dua yang kurang setuju dengan pilihan hidup saya, tapi kalau di keluarga saya sendiri, itu semuanya mendukung.”

Inilah yang kemudian diterapkan Suster Goretti dalam kegiatan kesehariannya.

Membantu Sesama

Setelah lima menit berjalan kaki, tibalah di kediaman Nenek O’om, jompo yang hidup sebatang kara. Melewati pintu kamarnya, langsung berhadapan dengan kamar mandi tanpa sekat. Sementara tempat pembaringan ada di pojok ruangan. “Gimana, udah baik kan? Sudah sehat ya. Jangan telat makan. Biar sehat.”

Isi kotak makan dari tangan Suster Goretti berpindah ke piring Nenek O’om. Nasi, telur, dan tumis bakso beserta dua buah pisang. Meski tinggal sebatang kara, piring yang dimiliki Nenek O’om ada selusin. “Iya, perabotan saya banyak ini. Banyak piring. Pakaian juga nggak ada yang nyuci, tuh. Makasih ya.”

Nenek O’om tinggal sendiri. “Nggak punya anak. Makan juga dikasih bu suster. Ya, kalau nggak dikasih makan. Saya beli sendiri. Duitnya dikasih orang aja. Ya, dari tetangga-tetangga gitu. Orang kasih ya ngasih. Tadi juga dapat sepuluh ribu, tuh. Ya, kadang ada juga yang kasih dua ribu. Ada yang kasih tiga ribu. Alhamdulillah.”

Dua puluh tahun lalu, suami Nenek O’om meninggal dunia. Meski masih punya saudara di Cikampek, Jawa Barat, tapi Nenek O’om memilih menghabiskan sisa umurnya di Jakarta. Di kolong jalan tol. “Saudara pada minta saya pulang ke kampung. Tapi nenek mah, malu. Waktu lagi muda di kota aja. Tapi pas jompo, pulang. Jadi malu saya. Mati-hidup udah. Di Jakarta saja. Pokoknya malu. Pas lagi muda, ke mana-mana. Tapi pas jompo pulang. Malu. Hehehe.”

Di ruang pengap, Nenek O’om menghabiskan waktu. Untuk tinggal di sini, ia harus membayar 200 ribu per bulan. Uangnya dikumpulkan dari pemberian para tetangga.

Dua pekan sebelumnya, ia tinggal di kamar yang disediakan gratis oleh Edy Djunaedi. Tapi kamar itu digusur untuk pembangunan rumah. Nenek O’om mendapat dana kompensasi sebesar 500 ribu rupiah, kata Edy. “Mama O’om juga dapat kompensasi dari yang punya tanah. 500 ribu. Saya pun tidak mengusir dia. Tiba-tiba saja, dia langsung pindah. Apakah ini hanya karena uang 500 itu. Padahal, sudah ada rencana mau bikin kamar buat dia di tempat lain. Tapi dia menolak. Dia memilih sewa kamar.”

Edy sempat menyediakan kamar gratis untuk Nenek O’om selama belasan tahun. Edy sendiri hidup pas-pasan dengan pekerjaan yang tak tetap. Kadang jadi perantara jual-beli sepeda motor, kadang menjual bakso dan mie ayam keliling. “Dulu kalau kita lagi ada masak sayur yang enak. Saya anterin. Ya kadang kan kita masak enak, kadang nggak enak. Tapi kalau masak ayam, kita anterin. Kadang dia yang suka minta kemari. Apa-apa selalu ke saya. Pernah juga pas lagi Lebaran Ied pas lagi mau sholat, dia sakit. Itu dua tahun lalu. Itu saya mau sholat nggak jadi. Saya langsung bawa pake motor. Dia kan punya penyakit maag. Jadi kalau udah kumat maag-nya, itu jerit-jeritan. Saya sudah bilang sama dia, Ma Om, mau sakit, mau mati, kita yang tanggung jawab.”

Edy mengatakan, tetap akan menjaga Nenek O’om meski sudah pindah ke tempat lain.

Belasan tahun Pondok Ozanam berdiri, tak sepeser pun bantuan datang dari pemerintah. Tapi, Suster Goretti bersama relawan di Pondok Ozanam tetap bekerja untuk membantu mereka yang menunggu di kolong Jalan Tol Pelabuhan Tanjung Priok. Kepada para lansia, mereka menyediakan telinganya untuk mendengar cerita dan keluhan mereka.”Kenyataannya, banyak orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan kurang mendapatkan perhatian. Bahkan untuk berobat pun kadang juga susah. Karena di kami, ada orangtua. Ada yang sendiri. Ada juga yang anak dan cucunya cukup banyak. Ya membantu meringankan mereka. Ya, dari hal-hal kecil dari cara memberi makan mereka. Memberi bantuan sedikit, agar berarti. Bisa jadi tambahan gizi buat mereka.”

Kehadiran Suster dari Pondok Ozanam selalu dinantikan Kasem, yang sudah 20 tahun hidup di kolong jembatan. Tanpa keluarga dan pemasukan, mengurus ibunya yang sudah renta.

Sejak dipantau tetangga dan Pondok Ozanam, beban Kasem sudah sedikit berkurang. Minimal, ia tak kesulitan mendapat obat bila sakit kepala menyerang.”Alhamdulillah.. Sekarang Bu Suster juga kasih. Iya, ada nasi seminggu empat kali. Ada juga bantuan obat. Tadinya kan nggak punya obat puyeng, obat panas. Obat buat nenek-nenek. Sekarang udah mending. Karena sebelumnya sakit mulu. Sekarang ya, alhamdulilah, bantuan obat juga dapet.

Salam Damai dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: