Dua Bermain Penangkapan Nazaruddin ?

Akhirnya, M Nazaruddin buronan KPK ketangkap di Kolombia, minggu malam. Bekas Bendahara Umum Partai Demokrat, itu kini ditahan sementara di Kota Bogota sebelum tim gabungan penegak hukum menyeretnya ke Indonesia.

Sebelum ditangkap, banyak tudingan yang dia lontarkan terkait persoalan korupsi. Kepada para pejabat KPK, juga sejumlah tokoh Partai Demokrat. Kini, tudingan itu tinggal tunggu dibuktikan kebenarannya.

Setelah Nazaruddin berkicau dari persembunyian, kini dia harus bertanggung jawab atas nyanyiannya itu. Ya, Nazaruddin menjadi ‘artis’ yang sedang dibicarakan masyarakat luas dan disorot media. Tentu, kehadirannya nanti di tanah air menjadi sasaran lawan politiknya. Lawan politiknya, yang dulu pernah dituding ikut terlibat dalam kasus korupsi.

Sebut saja Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum yang dituduh menjadi otak suap proyek wisma atlet di Palembang. Nazar menuding Anas ikut menikmati duit Rp. 7 miliar dari proyek tersebut. Tentu, Anas tak bisa diam atas tudingan tersebut. Belum lama, ia melaporkan Nazaruddin ke polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik.

Nyanyian Nazaruddin juga merembet ke kader-kader Partai Demokrat lainnya, seperti Angelina Sondakh. Tentu nyanyian ini mengikis citra PD di mata masyarakat luas.

Selain itu, KPK juga kebakaran jenggot, pasca Nazaruddin menuding sejumlah pejabat KPK terlibat kasus rekayasa dirinya. Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah dan M Jasin, serta Ade Raharja dituding pernah melakukan konspirasi dengan Anas Urbaningrum. Dalam konspirasi itu, menurut Nazar, KPK sepakati kasus proyek suap wisma atlet hanya sampai diusut di tingkat Nazar. Imbalannya, Chandra dan Ade akan dijadikan pimpinan KPK periode berikutnya, atas dukungan Partai Demokrat.

Percaya atau tidak, tudingan ini telah mendesak KPK membentuk komite etik untuk menelusuri kebenaran kicauan Nazaruddin. Belakangan, sebuah lembaga survei menyatakan citra KPK makin melorot tiap tahunnya.

Kicauan seorang bekas Bendahara Umum PD ini begitu berdampak terhadap KPK dan Partai Demokrat. Akibat kicauan Nazar, keduanya anjlok pencitraan.

Kena Juga

Kini, kepolisian boleh menepuk dada, bangga bisa menemukan Nazaruddin di Kolombia. Namun, yang menjadi pertanyaan kenapa perburuan Nazaruddin begitu diprioritaskan? Banyak buronan kasus korupsi yang kini masih bebas di luar negeri tapi belum bisa diendus polisi. Sebut saja Nunun Nurbaeti, tersangka kasus korupsi pemilihan Deputi Gubernur Senior, Miranda Goeltom. Bertahun-tahun, isteri bekas wakapolri itu sampai bisa jalan-jalan di Mall Singapura tanpa rasa takut untuk ditangkap.

Dari sini, pertanyaan muncul; Siapa yang paling cemas bila Nazaruddin masih bebas di luar negeri? Masyarakat atau lawan politiknya?

Penangkapan Nazar Kepentingan Siapa?

Jelas, ada perbedaan perlakuan antara Nazaruddin dengan buronan korupsi lainnya yang kini berada di luar negeri. Hemat kata, Nazaruddin ditangkap karena telah membuat cemas partai penguasa sekaligus lembaga yang paling dipercaya masyarakat bisa memberantas korupsi.

Sebetulnya, bila dilihat lebih objektif, penangkapan Nazar bukan berdasarkan kepentingan masyarakat luas yang rindu akan pemberantasan korupsi. Tapi penangkapan itu lebih kepada kepentingan kekuasaan. Kekuasaan baru bergerak bila sudah terancam eksistensinya. Jadi, penangkapan Nazaruddin bukanlah sesuatu yang membanggakan, sampai semua buron koruptor bisa diseret ke tanah air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: