Ketidakadilan di Tanah Cikeusik Sambut Hari Kemerdekaan

Anggota Ahmadiyah Cikeusik, Deden Sudjana divonis 6 bulan penjara karena membela diri dari serangan ratusan warga.

Palu majelis hakim Pengadilan Negeri Serang, Banten berbunyi keras di hadapan Deden Sudjana. Vonis 6 bulan penjara diputuskan. Pengikut Ahmadiyah itu dinyatakan bersalah karena melakukan penganiayaan dan menghalangi petugas.

Tragedi berdarah di tanah Cikeusik terjadi Februari lalu. Saat itu ratusan orang berdatangan membantai warga Ahmadiyah. Kejadian ini menewaskan 3 warga Ahmadiyah, dan salah satu pengikut Ahmadiyah, Deden Sudjana selamat dari amukan massa. Dia sempat melakukan perlawanan karena sudah terdesak di antara parang, balok dan golok para penyerang.

Kejadian berdarah itu sempat terekam kamera. Pemukulan membabi buta kepada 3 mayat warga Ahmadiyah mengiris hati siapa saja yang menyaksikan video tersebut. Video itu telah tersebar di Youtube.

Sejumlah penyerang juga ikut terekam. Wajah mereka telak dipantau kamera. Pita biru dan hijau di baju mereka, terlintas jelas. Menandakan sesuatu dari kelompok penyerang. Penyerangan warga Ahmadiyah di Cikeusik dinilai sejumlah kalangan sudah direncanakan sebelumnya, dengan tanda pita tersebut.

Tragedi berdarah Cikeusik menjadi pusat perhatian publik saat itu. Dari ratusan penyerang, polisi menetapkan 12 orang sebagai tersangka. Bulan lalu para penyerang itu divonis ringan 6-7 bulan penjara. Mereka dinyatakan bersalah karena terbukti melakukan penganiayaan.

Menurut LSM HAM Setara Institute, kontruksi hukum yang dibangun PN Serang Banten atas peristiwa ini adalah Bentrokan antara warga Cikeusik dan warga Ahmadiyah. Kontruksi hukum ini yang kemudian membuat tuntutan jaksa begitu ringan; penganiayaan. Bukan pembunuhan berencana, yang ancaman hukumannya bisa 20 tahun penjara.

Kontruksi hukum yang dibangun ini juga menyeret warga Ahmadiyah, Deden Sudjana sebagai pelaku penganiayaan. Tapi siapa yang dianiaya Deden? Tidak jelas siapa korbannya.

Fakta di lapangan, warga Ahmadiyah diserang. Akan tetapi polisi dan jaksa membungkus kasus ini sebagai bentrokan. Alhasil, para penyerang dihukum ringan. Korban dari pihak Ahmadiyah pun dinyatakan bersalah.

Ketidakadilan di ruang pengadilan ini bakal jadi preseden buruk ke depan. Kaum minoritas di tanah air akan selalu terancam nyawanya. Pembunuhan pada kaum minoritas (warga Ahmadiyah) dibangun sebagai kewajaran, karena keadilan tidak lagi memihak pada mereka.

Jelang hari kemerdekaan, tampaknya bendera merah-putih compang-camping berlumuran darah. Tertunduk lesu meratapi sang garuda yang kini jadi perkutut.

Selamat Hari Kemerdekaan RI!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: