Gas Alam Mengalir Sampai Dapur

Merasakan Manfaat Gas Alam

Kelurahan Beji, Depok, Jawa Barat merupakan salah satu kelurahan percontohan penggunaan gas alam, pengganti gas elpiji. Kelurahan yang letaknya persis di belakang kampus Universitas Indonesia ini menjadi percontohan penggunaan gas alam, karena letaknya tak jauh dari jaringan pipa gas Pertamina dan Direktorat Jendral Minyak dan Gas Kementrian Energi Sumber Daya Mineral.

Saya menyambangi rumah-rumah di Beji untuk menyaksikan langsung pemanfaatan gas alam sampai ke dapur rumah tangga. Tujuan pertama adalah rumah Ahmad Mursyidi, ketua RT 06/04 Kelurahan Beji. Secangkir kopi panas menemani obrolan kami.

Ahmad menceritakan, kompor di dapurnya sudah memakai gas alam yang mengalir melalui pipa-pipa.

“Kebetulan masyarakat Beji, beberapa bulan lalu. 3-4 bulan lalu. Itu dapat aliran dari yang namanya gas bumi. Jadi sekarang dikonversi dari gas elpiji ke gas bumi. Instalasinya dan sekarang kami sudah bisa nikmati. Instalasi itu kan ada meteran, seperti meteran listrik.”

Ahmad Mursyidi mengajak saya ke dapurnya, dan menunjukkan cara kerja instalasi gas alam itu. Di tembok luar dapur terdapat pipa sebesar selang untuk menyiram tanaman. Pipa berwarna kuning tersebut tersambung dengan alat pengukur pengeluaran gas. Mirip seperti meteran pada listrik atau pun meteran PAM.

Ada dua keran di pipa tersebut yang memiliki fungsi masing-masing, kata Ahmad.

“Jadi yang dipakai, seperti ini. Ada keran pulp-nya, kemudian ini keran pengaman. Seperti yang saya katakan, bila terjadi sesuatu di dapur, keran ini yang harus ditutup habis. Kemudian ini ada meterannya, kalau di listrik itu KWH, nah ini meterannya. Nah, seperti ini tertera angka 73,552 meter kubik. Untuk pemakaian yang kita bayar itu misal 73, bila bulan besok menjadi 90, berarti yang kita bayar itu sebesar 17 meter kubik. Jadi angka itu yang keluar kita pakai, atau yang keluar lewat kompor.”

Ahmad menambahkan, untuk kompor tidak dibagikan dalam program ini jadi ia masih memakai kompor lamanya.

“Sebetulnya kompornya konstruksinya tidak berubah. Yang diubah itu cuma lubang spuyernya aja. Ini dibesarkan supaya nyala-nya gampang.”

Ahmad menjelaskan keuntungan memakai gas alam ini.

“Ya kalau pertama keuntungan gas alam itu, kita tidak perlu nenteng-nenteng tabung gas. Dan, orang perempuan sendiri takut buat masang regulator tabung gas elpiji, karena beritanya sering meleduk. Yang kedua, kayaknya lebih simple aja. Terkadang gini, menggunakan gas alam ini, kita belajar cara mengatur pemakaian. Jadi, dengan gas alam, ini kita bisa belajar berhemat. Masalah keamanan, di tabung elpiji mudah meledak, dengan gas alam itu jauh. Tapi bukan berarti nggak bisa meledak. Saya pernah mengalami. Pada suatu malam, saya mau goreng telor, lagi jerang minyak goreng, tiba-tiba api naik. Kurang lebih tingginya satu meter. Dan itu tak terjadi ledakan, sampai saya padamkan.”

Di atas kompor ini, cat temboknya mengelupas, sisa bekas kebakaran kecil yang terjadi di dapur Ahmad Mursyidi. Mungkin akan beda cerita bila Ahmad Mursyidi masih menggunakan tabung gas elpiji.

Selanjutnya saya akan menelusuri dapur-dapur warga Kelurahan Beji lainnya. Sekira 200 meter dari rumah Ahmad Mursyidi, saya mendatangi salah satu rumah warga di gang kecil.

Pemilik rumah, Dono menerima saya di rumahnya. Tapi untuk berbincang soal gas alam, ia mengajak saya ke dapur menemui istrinya, Umi Latifah.

“Masak sih jarang, kalau lagi mau aja. Ini paling sayur untuk anakku yang paling kecil. Kalau nasi pakai magic com. Apinya gampang menyala. Lebih besar dia, sampai besar. Apinya tidak terlalu besar seperti ini kalau pakai gas elpiji.”

Umi menambahkan, memakai gas alam ini lebih bersih dan tak bau dibandingkan gas tabung elpiji.

Saya pun menuju rumah Rohimah, warga Beji lainnya. Rohimah tidak memasang instalasi gas alam, ia tetap memakai gas tabung elpiji.

“Kalau pakai gas ini, kan saya pakai sampai 3 minggu itu harganya Rp. 45000. Kalau pakai gas bumi, itu harganya bisa sampai  Rp. 75000. Saya nggak pasang. Takutnya nggak kuat bayar. Itu seperti bayar listrik kan ya.”

Setelah berkeliling di Kelurahan Beji, saya saat ini sudah berada di Keluarahan Beji Timur. Kelurahan kedua yang menjadi target percontohan penggunaan gas alam di Depok, Jawa Barat. Sambil melepas lelah, saya mampir di sebuah warung kopi. Warung Babeh Muchtar ini masih menggunakan gas elpiji.

“Ya, sebelumnya pakai gas elpiji. Jadi diterusin aja. Ada sih keinginan pakai gas alam. Pengen tahu pakai gas alam itu, apakah lebih bagus. Tidak bikin bahaya. Kan tau sendiri, tabung-tabung itu gampang meledak kayak disiarin di televisi. Kadang ngeri juga.”

Meski banyak keuntungan bisa didapat dari penyaluran gas alam ke dapur warga, seperti lebih efektif, aman, dan tidak menimbulkan bau, tapi masih ada warga yang belum menggunakannya. Memutari Kelurahan Beji dan Beji Timur, saya akan mencari tahu penyebabnya.

Terbentur Harga

Saya mengunjungi rumah Suryanah yang sudah sejak kecil tinggal di Depok. Suryanah menceritakan perbedaan memakai gas alam dengan gas tabung elpiji.

“Kalau pakai tabung itu, penggunaannya biasa 15 hari. Sebulan saya pakai 2 tabung, nah kalau 2 tabung itu cuma Rp 30.000. Kalau pakai ini bayarnya bisa lebih. Hampir Rp. 50.000.”

Suryanah hanya seorang kuli cuci pakaian. Upahnya 350 ribu rupiah per bulan. Suaminya hanya seorang hansip bergaji 300 ribu rupiah per bulan. Meski penggunaan gas alam cukup membebani keuangan keluarga, Suryanah bertahan memakai gas alam ini.

Romadi, suami Suryanah menjelaskan alasannya.

“Kita sudah keterpaksaan aja, namanya barang udah dibeli, ya terpaksa aja gitu. Ya, karena kebutuhan juga. Nah, kalau diganti ke tabung gas, itu harus ganti kompor lagi. Sekarang harga kompor berapa. Kan lebih mahal kompornya dari pada gasnya. Spuyernya udah diganti. Kan saya sudah bilang tadi, spuyernya ini dipakai ke tabung gas, itu nggak bisa nyala. Terus pakai yang normal, pakai ke gas alam, itu nggak nyala.”

Pasangan Romadi-Suryanah hanyalah satu dari 4000 keluarga di Kelurahan Beji dan Beji Timur, Depok, yang dapurnya dialiri gas alam. Proyek percontohan penggunaan gas alam berlangsung sejak April lalu. Ketika proyek dimulai, warga tak tahu berapa beban biaya yang harus mereka keluarkan. Saat pembayaran pertama, barulah mereka kaget, kata Ketua RT 06 RW 04, Kelurahan Beji, Depok, Ahmad Mursyidi.

“Dialirilah gas ke rumah-rumah, tiga bulan yang lalu. Lalu, terjadilah pembayaran pertama, di bulan Mei. Dan pada saat pembayaran pertama itu, akhirnya banyak warga yang spontan kaget. Ternyata, rekening yang mereka harus bayar itu, mahal banget. Dengan pemakaian Rp. 2.800 per meter kubik, dengan nilai abodemen Rp. 25.000 rupiah. Di sini, di lapisan bawah ternyata terjadi gejolak. Kalau begini, gua nggak perlu pasang gas aja dah, biarin dicabut. Karena dengan angka Rp. 25.000 mereka bisa menikmati 2 tabung gas elpiji. Tapi dengan sistem seperti ini, dengan nilai abodemen sebesar Rp. 25.000, siapa pun pasti akan jerit.

Akhirnya, kata Ahmad Mursyidi, seluruh warga di kelurahan protes berkali-kali dan menawar harga dengan pihak pengelola. Hingga terjadi kesepakatan harga baru.

“Surat keputusan berdasarkan tarif, dibagi berdasarkan golongan. Yaitu Golongan A, dengan batas pemakaian 0-5 meter kubik, biaya tetap atau abodemennya, itu sebesar Rp. 5000, dengan tarif gas per meter kubik Rp. 2.800. Kemudian Golongan B dengan batas pemakaian 6-15 meter kubik, biaya tetap atau abodemennya Rp. 10.000, dengan tarif gas sama yaitu Rp. 28.000. Golongan C 6-25 meter kubik, biaya tetap atau abodemennya Rp. 15.000, dengan tarif gas sama Rp. 2.800.”

Sampai saat ini, warga Kelurahan Beji dan Beji Timur, masih terus mengupayakan penurunan tarif gas alam khusus warga yang tidak mampu. Setidaknya, mereka yang berpenghasilan pas-pasan, bisa menikmati gas alam tanpa dibebani tarif tetap atau abodemen.

Kepala Bagian Ekonomi Kota Depok, Diah Saidah mengaku Pemerintah Kota Depok tak bisa memberikan subsidi kepada warga tak mampu terkait penyaluran gas alam. Kata dia, Pemkot tak bisa intervensi soal keuangan. Ini karena gas alam sepenuhnya dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah Jawa Barat, Jabar Energi bukan dari Organisasi Perangkat Daerah, OPD.

“Sesuai dengan permen EDSM, tentang penunjukkan pengelolaan dibuka untuk umum, BUMN dan BUMD. Dan Kota Depok itu, belum ada BUMD. Kalau kita memang ingin benar-benar pelayanan kepada masyarakat, kalau bisa disubsidi itu gampangnya bisa dikelola oleh OPD. Kalau OPD, itu bisa langsung seperti Jamkesda bisa langsung buat kebijakannya seperti itu. Nah, kita sudah mengajukan ke Ditjen migas, bahwa ingin dikelola oleh OPD, tapi ditolak, karena permen ESDMnya dikelola BUMN dan BUMD. Sedangkan BUMD itu kan business to business, ada profit oriented-nya. Kalau Pemkot mau berkontribusi di sana, itu bentuknya bukan subsidi, tapi bentuk penyertaan modal.”

Selain itu, saluran gas alam ke rumah penduduk, masih menjadi pertanyaan apabila terjadi pemutusan aliran masal, seperti halnya terjadi pada pemadaman listrik.

Setiadji, Asisten Manajer Jabar Energi pengelola gas alam di Depok mengatakan, pihaknya belum berpikir jauh soal kemungkinan habisnya pasokan gas alam ini.

“Sebetulnya sih kita belum berpikir sampai ke situ. Soalnya, kalau suplai dari Pertamina kosong, otomatis ke industri lain pasti habis. Tapi untuk antisipasinya, kita kasih tahu LPM atau lewat kelurahan. Paling nanti kita minta bantuannya untuk sosialisasi ke masyarakat.”

Penyaluran gas alam ke rumah warga merupakan proyek besar dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Bukan hanya di Kota Depok Jawa Barat, proyek yang telah dimulai sejak 2008, akan menyasar ke wilayah lain. Dirjen Minyak dan Energi Kementrian ESDM, Evita Herawati Legowo.

“Kami mempunyai road map sampai 2014. Kami mulai 2008 dengan penyelesaian front and enginering design dan detail enginering design dulu, baru tahun 2009 kita mulai bangun. Pada 2009, kita mulai bangun di Kota Palembang dan Surabaya. Pada 2010, kita bangun di Bekasi, Depok, Tarakan dan Sidoarjo. Untuk 2011, yang kita bangun tiap kota itu ada 4000 sambungan untuk rumah tangga. Kita juga persiapkan untuk rumah susun bersubsidi di Jabodetabek, Bontan, dan di Sengkang, Sulawesi Selatan. Kemudian 2012 rencana kita adalah di Pekan Baru Riau, di Bangkalan Madura, Jambi dan Prabumule. Kemudian pada 2013 kita bangun di Sorong Papua, Subang Jawa Barat, di Loksemawe Aceh, dan Balikpapan, dan 2014 kita di Samarinda, Kaltim, Lampung, dan Semarang Jawa Tengah.”

Proyek penyaluran gas alam ke rumah tangga hanya berlaku di wilayah yang berdekatan dengan pipa utama gas alam, seperti di Kelurahan Beji dan Beji Timur, Depok Jawa Barat. Dengan begitu, proyek gas alam bukan untuk menggantikan penggunaan tabung gas elpiji secara nasional. Tapi apakah tarif penggunaan gas alam itu lebih mahal dari tabung gas elpiji?

Dirjen Minyak dan Gas Alam Kementrian ESDM, Evita Legowo menjawab, “Nggak mungkin. Nggak mungkin. Kami hitung semuanya. Nggak mungkin lebih mahal dari elpiji.”

Kembali ke dapur Romadi dan Suryanah, suami-isteri warga Kelurahan Beji, Depok Jawa Barat. Romadi yang hanya hansip berpenghasilan 300 ribu rupiah per bulan, dan istrinya yang hanya kuli cuci berupah 350 ribu per bulan, mereka hanya bisa berharap pembayaran gas alam tanpa dibebani tarif tetap atau abodemen.

“Mudah-mudahan. Kepenginnya sih begitu. Sekarang pengennya sih begitu. Mudah-mudahan”, kata Suryanah.

“Jadi kadang kita was-was juga. Kalau kita bayar itu nanya dulu ke sana. Tanya dulu, Pak atas nama ini, berapa bayarnya? Kalau kita langsung ke loket, cukup ga uangnya. Kalau main taruh aja, kartunya pembayaran rekeningnya, ternyata bayarnya ga cukup. Kita malu udah ngantri, udah nunggu, kan gitu”, tutup Romadi sambil tertawa.

Telah disiarkan/tayang kbr68h.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: