Kemarahan Tuhan di Bima

Tanah Bima, Nusa Tenggara Barat kembali terbakar. Demo yang berlangsung hari ini di kantor Bupati Bima, berakhir dengan pembakaran gedung.

Pada awalnya, aksi itu hanya dilakukan ratusan orang, dengan tujuan menduduki kantor Bupati Bima. Warga yang berdemo di kantor bupati menuntut polisi membebaskan 56 warga Lambu dan Sape yang ditetapkan sebagai tersangka pascabentrok 24 Desember 2011. Warga juga menuntut Bupati Ferry Zulkarnain mencabut izin usaha pertambangan emas PT Sumber Mineral Nusantara.

Namun, ratusan warga yang berdemo itu dicegah oleh polisi. Rasa solidaritas mengundang warga lainnya untuk bergabung. Mereka menjadi ribuan. Murka. Mulai mendobrak pagar kantor, kemudian membakar kantor bupati.

Kembali pada dua tuntutan tentang pencabutan izin dan pembebasan warga, memang pantas dilayangkan. Bukan untuk dibiarkan.

Bupati Ferry Zulkarnain pernah mengungkap bersedia mencabut izin usaha pertambangan emas PT Sumber Mineral Nusantara. Kesediaan untuk mencabut izin, itu diungkapkan 28 Desember 2011 atau empat hari setelah tragedi berdarah di Pelabuhan Sape. Sayang, janji diingkari. Harga tambang emas lebih tinggi ketimbang 3 nyawa warga yang melayang. Ini yang kemudian membuat warga terus memantau dan menuntut izin tambang dicabut. Sampai kini. Sampai kantor bupati dibakar!

Sementara, warga kehilangan kepercayaan pada polisi. Pada kerusuhan akhir Desember, 56 warga ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka kasus ini. Sedangkan tak sampai 10 anggota polisi yang dikenakan sanksi pada kasus itu. Menghilangkan nyawa orang, hanya diganjar sanksi administrasi. Ada ketidakadilan pada proses hukum ini, yang kemudian membuat warga luntur kepercayaan pada polisi. Pada ketimpangan penetapan tersangka dari warga dan polisi, membuat tendensi warga yang bersalah.

Pembakaran kantor bupati Bima merupakan kegagalan penyelesaian tragedi penyerangan warga, 24 Desember lalu di Pelabuhan Sape. Segenap perintah dari Presiden Yudhoyono kepada Kapolri Timur Pradopo dan Menko Politik, Hukum dan HAM Djoko Suyanto pernah disampaikan untuk menyelesaikan kasus Bima. Akan tetapi, itu belum cukup. Pembakaran kantor bupati adalah jawaban dari warga yang tak puas akan penyelesaian. Dua tuntutan yang sangat masuk akal (cabut izin tambang dan pembebasan warga) malah tidak dipenuhi.

Kemarahan warga Bima adalah kemarahan tuhan. Murka tuhan atas ketidakadilan. Sepatutnya pemerintah mendengarkan suara tuhan, agar murkanya tak membakar tanah air lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: