Taksi Tanpa Rem (Mel-1)

Sabtu, 03 Maret, pukul 12.00 WIB sepanjang Jalan Raya Bogor, macet. Entah apa yang terjadi, kemacetan masih terjadi akhir pekan ini.  Sementara, jadwal penerbangan ke Australia sekitar pukul 15.00 tak bisa ditawar. Taksi yang ditunggu baru tiba tiga puluh menit setelah wajah berpeluh lalu dibedaki debu jalanan. Supir taksi biru bilang, tumben macet hari Sabtu. Saya jawab tak tahu.
 
Setelah, melewati dua kilometer, benar saja angkot-angkot itu mejeng di sepanjang jalan. Persis pada tanda putaran balik. Jalur sebelah kanan banyak yang berhenti. Sehingga, yang berputar harus menunggu. Sementara, sisi kiri angkot dari pelbagai tujuan mangkal. Tangan kanan para supir angkot melambai-lambai keluar seperti nyiur di siang hari.

Waktu terus bergulir. Dua puluh menit terbuang, untuk mencapai 2 kilometer. Melewati angkot mangkal. Lalu, tibalah di pintu tol Pasar Rebo. Ternyata, masih macet…! Supir taksi bertanya-tanya ada apa? Saya bilang tak tahu. Supir taksi lalu telepon temannya. Temannya juga bilang tak tahu. Lalu ada apa di depan sana membuat
jalan bebas hambatan ini padat dengan kendaraan yang ada?
 
Taksi jalan tersendat-sendat. Satu meter per lima menit. Di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), kondisi belum berubah. Jarum jam di tangan menunjukkan pukul 13.00.
Apa betul saya bisa berangkat ke Australia hari ini dengan kondisi seperti ini? Jantung berdebar. Hati cemas, mata terpejam. Apa yang terjadi saat ini saya serahkan pada tuhan dan supir taksi.

15 menit berlalu, tanpa perubahan. Jalan bebas hambatan masih padat-macet. Supir terus berusaha menyusul kendaraan di depannya. Mencuri pada celah di kiri-kanan. Sampailah pada cabang jalur bebas hambatan antara: Cawang dan Tanjung Priok. Dari jarak 20 meter, terlihat jalur yang menyebabkan macet itu ternyata dari jalur Tj Priok.  Sementara, jalur Cawang lancar jaya. Masuk ke jalur Cawang, taksi melaju dengan kecepatan lebih dari 70 km/jam. Saya pejamkan mata, tak mau tahu apa yang akan terjadi.
 
Tangan supir taksi menepuk bahu saya. Dibangunkan. Ditanyakan ke terminal mana? Saya bilang terminal E/F domestik. Sudah malas melihat jam. Pasrah. Tapi apa yang terjadi. Ini pukul 13.30. Artinya sejak saya pejamkan mata. Supir itu sudah memacu taksinya dengan maksimal. Entah berapa kecepatan yang digunakan? Saya bayar dia dengan lebih. Lalu, ia tersenyum sambil mengucap, “Taksi ini diciptakan tanpa Rem. Anda tak akan terlambat, Pak,” kata dia, lalu pergi dan menghilang di antara taksi-taksi lainnya, misterius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: