Mereka Nekat dan Hidup (Mel-2)

Perjalan ke Melbourne, Australia kali pertama ini tak langsung dari bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Perjalanan di mulai dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Ngurah Rai, Bali. Dari pulau dewata ini, barulah pesawat besar (bravo) terbang ke Melbourne.

Saat antri mendapatkan boarding pass di Ngurah Rai, saya dihimpit oleh warga negara asing. Semuanya. Saya sendirian berwajah Asia di sepanjang antrian ini. Dengan percaya diri, saya melangkah perlahan menuju pemeriksaan paspor dan tiket.

Setelah mendapatkan boarding pass, kembali menunggu. Tak dinyana, di antara warga negara asing yang akan pergi ke Melbourne saat itu ada juga beberapa berasal dari Indonesia. Seorang ibu berkerudung, dan dua anaknya duduk di lantai ruang tunggu. Dia menyapa dan bertanya tetang bepergian ke Melbourne. Saya jawab, “Iya, baru pertama kali.”

Ibu bersama dua anaknya, berasal dari Makassar. Anaknya masih berusia sekolah dasar. Ia berniat tinggal bersama suami, yang disekolahkan pemerintah di Melbourne sejak tahun lalu. “Saya, mau tinggal di Melbourne sampai tahun 2016. Ini pertama saya ke luar negeri, bersama anak-anak pula. Saya nggak tahu banyak soal prosedur ke luar negeri. Saya juga tidak bisa bahasa Inggris. Saya nekat,” kata dia.

Suaminya pegawai negeri di instasi pemerintahan tingkat provinsi. Kata dia, tiap tahun gubernur berprogram menyekolahkan 30 pegawainya ke luar negeri. Tahun lalu, giliran suaminya yang sekolah ke Melbourne.

“Di Melbourne itu saya dengar, banyak peluang bikin usaha. Katering makanan Indonesia itu ramai. Itu makanya, saya bawa rice cooker ke sana. Diminta sama suami. Selain itu, jasa penitipan anak juga ramai. Jadi bisa-bisanya aja, cari peluang,” kata dia sambil menggendong rice cookernya.

Selain mengaku tak tahu prosedur ke luar negeri, Ibu itu juga mengaku lupa minta alamat lengkap suaminya di Melbourne. Padahal, ini akan jadi pertanyaan yang akan diajukan untuk masuk ke negeri seberang. “Ya, apa pun yang terjadi, saya siap kok kalau nanti harus ditahan petugas imigrasi di sana. Biar saya bisa telepon suami saya di sana.”

Penerbangan segera berlangsung. Waktu di Bali menunjukkan pukul 23.45. Pesawat besar punya Garuda mesinnya sudah panas. Baling-baling berputar, Melbourne tak pernah bergeser. Sekitar 5 jam perjalanan bisa ditempuh dengan GA 718.

Awan seperti kapuk berada di bawah pesawat. Rintiknya, sesekali menyiprat di kaca jendela. Sementara, gelap terus meradang. Layar LCD di belakang kursi menunjukkan suhu udara di luar mencapai -49 derajat celcius. Ibu dan dua anaknya, terlelap. Kertas imigrasi diisi seadanya. Menanti pagi di Melbourne dengan cemas, harap dan keceriaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: