Menggagas Kereta Api Dalam Kota

Bertransportasi menggunakan kuda besi kelas ekonomi Manggarai-Bogor ditempuh sekira 1 jam. Sangat cepat, dengan harga tiket Rp 2 ribu perak. Ini kali pertama saya jalani, dan bukan hal baru bagi mereka yang biasa pulang pergi dengan kereta api.

Terbiasa menjelajah seluk-beluk kota Jakarta dengan sepeda motor, jadi terkesima dengan perjalanan kereta api ekonomi. Para penumpangnya, kebanyakan para pedagang, mahasiswa, pelajar, dan pekerja. Berdesakan, bergelantungan di semua gerbong. Jari-jari tangan menyelip di sela pintu kereta yang terbuka lebar. Orang-orang berjejal ingin mendapat angin segar dari pintu yang terbuka. Tas-tas digendong di depan dada. Mata menyala mengawasi gerakan tangan-tangan pencuri. Waspada.

Di antara sikut-sikut, tubuh saya terhimpit. Mulut orang-orang bicara berbau sangit. Ketiak basah dari orang di sekeliling bercampur bau asap kampas rem kereta api membuat mual dan pusing kepala. Saya masih bertahan, demi mencapai ketepatan waktu tempuh.

Akhirnya, satu jam sampai juga di Stasiun Bogor. Cuaca mendung memayungi kota hujan ini. Sementara di luar stasiun, angkutan umum (mikrolet, becak, dan ojek) menepi di sembarang tempat, berebut penumpang. Para sopir berteriak soal arah tujuan.

Di tepi rel yang sudah tak terpakai, berteduh sambil memesan segelas kopi panas. Sejenak kembali mengingat situasi di kereta api. Begitu cepat dan murah.

Alat transportasi, ini sesungguhnya bisa menjadi solusi kemacetan di dalam ibukota Jakarta. Bukan sekedar lintas kota, atau provinsi. Alat transportasi massal yang tepat waktu akan menjadi pilihan di tengah kekeruhan persoalan transportasi di Jakarta-macet karena berlebihan kendaraan.

Selain ketepatan waktu, kenyamanan dan keamanan kepada penumpang juga perlu diperhatikan. Ini guna memberikan efek kepada masyarakat supaya meninggalkan kendaraan pribadi, lalu menggunakan transportasi publik. Menurut data yang dirilis TMC Polda, hampir tiap hari jumlah kendaraan di Jakarta berambah 600 unit. Jumlah kendaraan di Jakarta melebihi kapasitas jalan yang tersedia.

Sebentar lagi, pemilukada Jakarta berlangsung. Pada periode sebelumnya, Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo sudah lempar handuk, untuk mencari solusi kemacetan. Sampai-sampai Wakil Presiden Boediono turun tangan mencari solusi buruknya transportasi di Jakarta. Boediono kemudian membentuk tim khusus mengurai kemacetan di sejumlah kota, khususnya Jakarta. Namun, hingga kini belum terlihat efek dari pembentukan tim khusus tersebut.

Pada gubernur DKI Jakarta mendatang, warga menaruh harapan persoalan transportasi bisa dipecahkan. Salah satunya adalah membuat transportasi massal yang tepat waktu dan nyaman bagi penumpangnya.

Ide membuat kereta api khusus dalam kota, menjadi salah satu gagasan yang perlu dipertimbangkan. Pasalnya, kereta api tak terhalau lampu merah dan punya kelebihan soal ketepatan waktu. Asalkan aman dan nyaman, bisa dipastikan warga akan meninggalkan kendaraan pribadinya, dan mulai menggunakan transportasi massal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: