Antri Minyak

Oleh: Tan Sing Hwat

Dua hari sudah Kebayoran bagaikan dihinggapi penyakit malaria, sejak Rebo pagi kemarin hingga Isya, hujan menggila tiada henti-hentinya. Angin pun menerjang setiap yang ditemui, sedang geledek menyumpah-nyumpah sepanjang hari. Hanya sejenak di kala malam menggelap, suasana agak tenang kembali. Ini pun tak lama. Pada hari Kemis subuh kembali datang serbuan gelombang kedua yang lebih dahsyat.

Suara beduk dan azan yang biasa memekik di subuh-gelap, pagi itu lenyap ditelan gemuruh hujan dan taufan.

Tanah merah yang dihari cerah tampak retak-rekah dan gersang karena hisapan terik matahari, yang menimbuni lorong-lorong kampung, sudah sejak kemarin berubah menjadi bubur merah, bagaikan bubur untuk pesta perkawinan. Baru pada Kemis siang hujan berhenti mengganas dan matahari berseri-seri menguasai bumi lagi.

Rohaya memandang sinar matahari diluar gubuknya. Pada parasnya tercermin rasa lega. Buru-buru ia betulkan sarong yang dikenakan setinggi dadanya, dijamahnya kebaya sempit dan gelap itu. Kemudian ia keluar membawa kebayanya untuk dijemur. Itulah baju kebaya satu-satunya bagi Rohaya.

“Asari, kumpulkan surat-surat kabar bapak”, katanya pada puterinya yang masih kecil, ketika ia kembali dari tempat jemuran. “Jual surat kabar itu dipasar. Uangnya belikan beras.”

Asani tidak menjawab. Ia kerjakan perintah ibunya.

Dalam umurnya yang baru 9 tahun, Asani seakan-akan lebih dewasa daripada usianya yang benar. Derita Ibu-Bapaknya membuat ia lebih masak. Beda dengan anak-anak orang mampu, Asani lebih pendiam dan lebih banyak membantu pekerjaan ibunya daripada bermain-main. Perubahan sikap Asani itu baru terjadi pada hari akhir-akhir ini. Tadinya ia seorang anak yang periang, tak ubahnya dengan kawan-kawannya yang sebaya. Ia belum mengerti apa makna hidup dimasa kini. Juga tidak, apa arti hidup dihari nanti. Ia masih terlalu bersih, terlalu jernih sejernih air yang baru dialirkan oleh mata airnya.

Tetapi pernah sekali ia saksikan bapaknya yang ia sayangi mencucurkan air mata dihadapannya. Ia masih ingat bagaimana pagi hari itu ia mendesak bapaknya untuk membelikan pakaian baru untuk hari lebaran nanti. Tetapi Majeni, bapaknya, tidak menjawab. Ia hanya memandangi Asani dengan sinar mata penuh kesayangan, lalu dipeluknya puteri yang elok mungil itu dengan pelahan-pelahan, dan tak terasa, air matanya menabiri bijimatanya.

Asani menatap wajah Majeni dengan sorot mata menanya. Lalu datang Rohaya menjelaskan soalnya: “Upah bapak berburuh belum cukup untuk makan tanpa hutang disana sini”, kata Rohaya sambil menghela nafas. “Apalagi untuk membeli pakaian baru.” Ia menasehatkan Asani supaya tidak menambah penat hati bapaknya. Semenjak itu mengertilah Asani akan keadaan Ibu-Bapaknya. Tak pernah ia mengulangi permintaannya. Ia puas dengan gaun dekil dan penuh tambalan yang ia miliki sekarang dan semenjak hari itu Asani berubah menjadi pendiam, …

“Bu, dipasar ada antri minyak, …” kata Asani setelah kembali dari membeli beras.

“Berapa kau dapat uang tadi?” tanya Rohaya.

“Delapan perak, Bu, …”

“Berapa kau bayarkan untuk beras ini?”

“Tujuh perak, seliter. Tinggal seperak lagi. Ini….”

Rohaya cepat mengambil botol kosong dari sudut gubugnya: “Nah, lekas antri sana…”

Asani lari ke pasar lagi. Oang-orang antri tadi sudah bubar. Tinggal beberapa puluh orang saja yang masih mengurung si penjual minyak. Mereka tidak mau antri lagi. Mereka berebut mengulurkan tangannya yang memegang botol atau kaleng kosong dengan disertai uang sekaligus. Dan keadaan ditempat penjualan minyak itu menjadi kacau balau. Mereka saling mendorong dan saling mendesak untuk memperebutkan sisa minyak yang masih ada. Si penjual menjerit memperingatkan supaya mereka tidak saling berdesak, namun tak seorang mau menghiraukan teriakannya. Ia memaki, ia mengancam akan menghentikan pembagian minyak itu, tetapi semua usahanya sia-sia belaka….

Rakyat tidak perdulikan jeritan penjual itu. Rakyat mau minyak, minyak dari bumi nenek moyangnya, minyak untuk keperluan hidupnya!

Sementara itu, Asani yang kecil, bagaikan pelanduk diantara kelompok gajah, berikhtiar menyusup diantara celah-celah yang dapat ia susupi dan ia berhasil menonjolkan tangan kanannya dibagian paling depan, namun ia sendiri terjepit dan tenggelam diantara desakan orang-orang dewasa. Sama sekali belum ia sadari, apakah botolnya itu dapat menarik perhatian si penjual.

“Ni…! Ni….! Aku dahulu….. Ini….” jeritnya. Tetapi belum seorang juga mau menerima botolnya. Berulang-ulang ia menjerit sambil melecut-lecutkan botolnya….

Dia yang sudah menerima bagiannya, dengan sekuat tenaga mendorong orang-orang yang dibelakangnya agar ada jalan untuk bisa pulang, sedang orang-orang yang disamping berebut menggantikan tempatnya itu dan…. kembali mereka saling dorong. Asani terumbang-ambing diantara gelombang manusia…..

Sementara itu, seorang wanita berpakaian indah, dengan tenang mengayuh sepedanya. Pada boncengan sepedanya diikatkan sekaleng penuh minyak yang sedang diperebutkan rakyat jelata. Beberapa orang ditepi jalan memandangi pengendara sepeda tersebut dengan sorot mata iri.

“Dia dapat sekaleng besar! Setan!!” teriak salah seorang.

“Kubeli ini dengan harga Rp.2 seliter, tahu?” Jawab wanita pengendara sepeda tadi sambil mencibir, kemudian buru-buru menikungi sebuah kelokan dan menghilang dari pandangan mata rakyat jelata.

“Habis…! Sudah habis!….” mendadak terdengar seruan sipenjual tadi. Tampak ia memperlihatkan drumnya yang sudah kosong.

Mereka yang sudah mendapatkan bagiannya lari pulang seraya bersorak, sedang yang belum dapat, memberengut dan bersungut-sungut, dan Asani pulang dengan rasa takut. Ia menangis di sepanjang jalan yang penuh lumpur.

“Mengapa? Tumpah…?, tegur Rohaya waktu Asani tiba di gubugnya.

“Tidak”, jawab Asani. Kemudian ia ceritakan, bahwa uang seperak sudah ia bayarkan, tapi minyaknya tidak diberikan dan sekarang minyaknya habis.

Seperak bagi Rohaya berarti lebih besar daripada seratus perak bagi sikaya! Berita yang dibawa Asani itu cukup membuat Rohaya jadi kalap! Bibirnya gemetar, napasnya menyesak dada. Tanpa berpikir lebih lama, ditariknya lengan Asani untuk diajak ke toko penjual minyak tersebut. Baju kebaya yang baru seperempat kering itu disentak dari tempat jemurannya dan dilibatkan pada lehernya, asal saja bagian dadanya tertutup. Mulutnya berkumat-kamit tak hentinya memaki Asani…..

“Ba, dia tadi sudah membayar seperak, tapi minyaknya belum dikasih!”, tegur Rohaya sambil menunjukkan botolnya.

“Mana aku tahu”, jawab penjual minyak itu. “Ada uang, ada minyak….”

“Tadi dia sudah membayarnya!”

“Dia membayar pada siapa?”

Rohaya memandang Asani dengan mata berapi-api: “Kau terimakan siapa uangmu tadi?”

Asani berdiam diri. Ia tidak dapat menjelaskan, pada siapa uangnya tadi diserahkan. Ia terjepit diantara orang-orang dewasa dan ia tidak melihat orang yang mencabut uang dari tangannya. Ia hanya merasa ada tangan menyentuh tangannya dan ia lepaskan uang seperak itu.

“Kau serahkan siapa?” Rohaya mengulangi, lebih murka.

Kembali Asani tidak menjawab. Ia hanya menangis.

“Kau berikan siapa? Setan!!”

Asani menangis lebih keras.

Rohaya tidak dapat menguasai dirinya lagi. Diangkatnya tangan kanannya dan diayunkannya kewajah Asani yang masih kecil tak berdosa itu.

“Aduh….”, Asani menjerit dan menangis lebih keras lagi. Pipinya menjadi merah karena tamparan ibunya dan ia terhuyung-huyung kebelakang hampir jatuh. Rohaya mengejar dan mengirimkan tamparan yang kedua dan yang lebih kuat.

“Ampun…, ampun, bu….ampun…”

“Tolol! Aku mati-in kau!” jerit Rohaya, sambil mendekati Asani yang menangis menutup wajahnya. Kembali tangan kanannya diayunkan. Tetapi tiba-tiba ia tahan tangan itu. Mulutnya agak ternganga, sorot mata yang membara tadi menjadi muram dan tangannya diturunkan perlahan-lahan, terkulai tak bertenaga. Perlahan-lahan air matanya mengucur turun, …

“Tidak…. Tidak, As…”, katanya parau. Bibirnya gemetar lagi, namun kali ini bukan karena kemarahannya, melainkan karena sesalnya. “Aku lupa diri….”

Rohaya menangis. Diburunya Asani dan dipeluknya kencang-kencang. Ditempelkannya pipi Asani kepada pipinya.

“As…. anakku…” ratapnya.

“Bu….” Asani balas memeluk, pelukan seorang anak yang penuh sayang pada ibunya yang miskin. Rohaya menghela nafas dan dibimbingnya Asani pulang….

Mereka meninggalkan tempat tersebut dengan kepala tunduk…. Tak terdengar kutukan lagi dari mulut Rohaya, melainkan beberapa butir airmata Asani masih menitik membasahi gaunnya…

Salah seorang yang menyaksikan kejadian tersebut mengatakan kepada kawannya, “Kalau Bapak-Bapak Menteri kita bisa ikut menyaksikan peristiwa ini, …”

(First published in the newspaper Republik (April 1959. Included in Pita Merah (Kumpulan Cerita Pendek) (Red Ribbon [A Collection of Short Stories]) Jakarta, 1959.)

THE KEROSENE QURUE

by Tan Sing Hwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: