Sekolah Memaksaku Beragama

Penghayat Didiskriminasi

“Dia nggak sempet sakit, tapi nangis-nangis. Katanya, dikata-katain, agama apalah katanya. Penghayat apalah, katanya. Penghayat itu nggak ada, katanya, itu kebudayaan. Katanya begitu. Ya, dia gitu. Kalau kata anak sekarang, katanya stress.”

Puspa, bukan nama sebenarnya, bersembunyi ketakutan di balik punggung ayahnya, Sukatman. Wajah gadis kecil itu murung saat duduk bersama ayahnya di atas balai bambu, samping rumah.

Siswi yang duduk di bangku Sekolah Dasar Jatirangga II, Bekasi, Jawa Barat itu baru saja mendapat perlakuan diskriminatif dari guru agamanya sendiri. Dipertanyakan soal kepercayaannya sebagai penghayat di depan siswa satu kelas.

“Saya tuh agama disuruh pilih dua; Kristen atau Islam. Kan kalau kepercayaan penghayat itu kebudayaan. Gurunya bilang, semua agama itu ada kitabnya. Dia bilang, saya juga nggak tahu tempat ibadah kamu di mana?”

Selama 5 tahun sekolah di SD Jatirangga II, Bekasi, Puspa sudah memilih untuk ikut pelajaran agama Islam. Tapi, guru agamanya baru tahu Puspa seorang penghayat, jelas kakaknya, Sugandi.

“Waktu kelas 1 sampai kelas 4 itu dia ikut ajaran Islam, karena kita (penghayat -red) belum ada kurikulumnya. Terus kelas 6, teman-temannya sudah tahu kalau bukan orang Islam, terus temannya ada yang bilang ke gurunya. Terus gurunya bilang ke dia, kalau kamu bukan orang Islam, dari kelas 1 sampai kelas 5 itu ikut pelajaran Islam? Itu sama saja kamu nantangin saya. Gurunya bilang begitu.”

Pelajaran agama di sekolah hanya berpatok pada enam agama yang diakui pemerintah; Kristen Katolik, Protestan, Islam, Budha, Hindu, dan Konghucu. Itu sebabnya, para penghayat seperti Puspa tak punya pilihan. Demi mendapatkan nilai agama, ia harus memilih satu dari 6 agama itu. Ini yang kemudian dijelaskan Sukatman ke sekolah.

“Kemudian dia disuruh pilih agama. Kata saya, ya silahkan saja. Yang penting sekarang dia kan penghayat. Yang penting, dia kalau ikut pelajaran harus dibantu. Sementara dia belajar. Kalau masalah pelajaran, nggak permasalahkan. Tapi masalah keyakinan, saya akan permasalahkan, karena ini menyangkut keyakinan juga. Pegangan kita juga.”

Asmat Susanto, Koordinator Gerakan Pemuda Perjalanan (GEMA) Jati Sampurna, Bekasi sedari awal ikut mendengar cerita diskriminatif yang menimpa Puspa. Ini kali kedua ia mendengarkan cerita tersebut. Asmat sudah berkali-kali berusaha menemui Kepala Sekolah SD Jatirangga II, Bambang Saryono, untuk menyelesaikan kasusnya Puspa.

“Kalau sudah ketemu dengan kepala sekolahnya, itu masalahnya bisa rapih. Tapi masalahnya, ini belum ketemu. Asal kita lihat di sekolah, jadwalnya rapat mulu nih. Tuh nomornya (Bambang -red).”

Ketika kami mencoba menghubungi nomor itu, yang keluar adalah mesin penjawab nomor tidak bisa dihubungi.

Informasi terakhir yang diterima KBR68H dari Asmat, kasus Puspa sudah selesai. Ini setelah dia meyakinkan pihak sekolah tentang kepercayaan penghayat. Puspa tak perlu pindah keyakinan. Hanya saja, ia diwajibkan belajar agama yang telah ditetapkan di sekolah untuk mendapatkan nilai di rapot.

Perlakuan diskriminatif yang menimpa Puspa di sekolah, juga dialami anak-anak penghayat lainnya. Hampir seluruh sekolah belum bisa menerima siswanya berkeyakinan sebagai penghayat. Di bekasi sendiri, jumlahnya penghayat mencapai puluhan anak. Sementara, Warga Perjalanan tersebar ke pelosok tanah air.

“Ada yang bilang macam-macam. Ada yang penghayat itu agamanya nggak jelas. Penghayat itu bukan agama. Penghayat itu apa sih? Animisme, dinamisme. Macem-macem di mana anak itu belum paham soal istilah itu. Yang jelas mereka terpojokkan. Namanya, minoritas jadi terkadang anak-anak pun di sekolah terbebani, tak sanggup artinya dengan omongan seperti itu. Kemudian, orangtuanya nggak mau ribet. Ya udahlah ikutin ajah, apa yang ada sekarang. Itu yang membuat mereka tak berani mendeklarasikan diri sebagai penghayat. Padahal dalam hati kecil, mereka ingin sekali.”

Dari tempat berkumpul Warga Perjalanan, Pasewakan Bina Bakti Medal Sampurna, anak-anak penghayat itu belajar untuk melawan diskriminasi di sekolah.

Sekolah Komunitas Penghayat

“Kemudian, di sekolah yang kepala sekolahnya masih belum memberikan kebijaksanaan, kalian tetap bersabar, bapak juga akan mengurus masalah ini dengan kepala sekolah, supaya kalian diberikan hak kebebasan untuk diberikan nilai kepada organisasi kita. Biar nggak ada paksaan di sekolah. Itu mudah-mudahan akan kita perjuangkan.”

Ruang gedung Pasewakan milik Warga Perjalanan bisa diisi hingga seratus orang. Gedung ini berdiri tak jauh dari rumah ibadah lainnya.

“Rareongan ini, sebenarnya hasil kerja sama warga penghayat. Rareongan, gitulah kang. Rareongan, sehingga punya bangunan dengan nama Pasewakan Bina Bakti Medal Sampurna. Ini tempat berkumpul, warga penghayat setiap malam Minggu, sarasehan. Kalau tiap minggunya, itu buat belajar, seperti kita generasi muda.“

Anak-anak penghayat dari pelbagai tingkat sekolah, juga belajar mata pelajaran di sekolah, seperti Bahasa Inggris yang saat itu dipandu Tati, yang juga seorang penghayat.

Mahasiswa di salah satu kampus swasta di Jakarta ini punya pengalaman buruk tentang pelajaran agama di sekolah. Untungnya, sejak SMP sekolahnya bisa menerima sebagai penghayat.

“SD itu di negeri. Jadi Islam. Terus kelas 6 itu ujian, UAS. Itu praktek sholat. Kemudian di SMP. Saya itu di Stradanawar Katolik. Di situ, saya sudah menyatakan diri sebagai seorang penghayat. Jadi, saat itu, ditulis dalam identitas agamanya: strip. Lalu, di SMA itu, saya di Pangudiluhur, Katolik lagi, tak dipermasalahkan.”

Begitu pun pengalaman buruk yang dialami Sunandar, siswa penghayat. Sekolah SMA 7 Bekasi, tak bisa memberikan nilai untuk siswa penghayat.

“Kamu tuh mau ikut ke mana? Islam atau Kristen? Di sekolah ini, hanya ada dua pilihan agamanya. Nah, banyak teman-teman ikut ke Kristen. Ya sudah saya ikut ke Kristen. Dari SMP saya Islam. Di SMA, sampai sekarang saya Kristen sampai sekarang. Ya, sebenarnya sih nyaman nggak nyaman. Soalnya, mau gimana lagi, kalau kita nggak ikut pelajaran itu, kita nggak punya nilai kan. Sedangkan saya sendiri, maunya ambil nilainya dari organisasi penghayat, cuma dari sekolah nggak menerima itu.”

Setelah menyatakan diri sebagai penghayat, bagaimana penerimaan teman-teman sekolah?

“Mereka, mayoritas menerima. Tapi ada juga yang melecehkan. Ya, penghayat itu musyrik, ga punya kitab, agamanya ga jelas. Sering kayak gitu.”

Tati dan Sunandar, sejak awal menyatakan diri sebagai penghayat ke sekolah. Tapi, tak semua penghayat berani melakukan hal yang sama. Julian Arfan yang duduk di bangku SMA, memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Ia khawatir mendapat pengucilan dari lingkungan sekolah.

“Kelas 1 itu ikut agama Kristen. Terus kelas 2-nya pindah ke Islam. Di situ saya ditanya-tanya juga. Kelas 3-nya Islam. Tapi cuma ikut-ikut aja sebenarnya. Waktu SMP ikut agama Katolik juga tuh, ya sama sih, nyaman-nyaman juga, tapi dengan ajaran saya penghayat, ya nggak lupa.”

Kembalikan Penilaian Siswa ke Komunitas

Tidak semua sekolah di Bekasi, Jawa Barat memaksa siswa penghayat untuk belajar agama yang diakui pemerintah. Berdasarkan catatan Gerakan Pemuda Perjalanan (GEMA) Jati Sampurna, sudah ada 6 sekolah yang mengembalikan nilai agama siswa penghayat kepada komunitasnya.

GEMA merupakan komunitas Warga Perjalanan yang berperan menyosialisasikan tentang kepercayaan penghayat. Salah satunya, SMP Negeri 24 Bekasi, di mana keyakinan Rasmita sebagai Warga Perjalanan, tak dicemooh.

“Memang sudah dari awal, ya. Jadi berhubung banyak juga (penghayat) yang sekolah di 24, jadi, masalah nilai diserahkan ke organisasi sini.”

Ada pergantian kepala sekolah?

Ada. Baru tiga bulan yang lalu. Tapi masalah nilai tetap dikembalikan ke komunitas.”

Cara ini yang sepatutnya dilakukan sekolah-sekolah lain dalam memperlakukan siswa penghayat. Sayang banyak sekolah yang tidak mengetahui.

Menurut Engkus Ruswana, Presidium Badan Kerjasama Organisasi Kepercayaan, UUD 45 menjelaskan negara menjamin kebebasan setiap orang untuk memeluk satu kepercayaan. Sementara Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, mengatur lebih rinci tentang cara memberikan penilaian bagi siswa penghayat.

“Undang-undang sudah memberikan ruang. Pada pasal 12, UU No 20/2003 Sisdiknas, di situ disebutkan, setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan agama yang dianutnya, dan diajarkan oleh pendidik yang se-agama. Nah, itu kan semangatnya demokratis. Tapi kembali selalu dikatakan kepercayaan itu bukan agama, akhirnya tidak berlaku untuk kepercayaan. Akhirnya, seperti ada kekosongan hukum di sini.”

Menurut Engkus sudah waktunya menghapus mata pelajaran agama di sekolah. Dia menilai mata pelajaran tersebut hanya menjadi biang diskriminasi bagi penganut kepercayaan. Asmat Sutanto pun setuju, karena pelajaran agama tak jadi jaminan seseorang bermoral.

“Sangat kasihan, apalagi dikait-kaitkan dengan praktek (agama lain -red). Besok mau ujian praktek nih, kalau kamu nggak pilih salah satu, nggak punya nilai nih. Lah itu kan kasian kalau di tingkat SMP dan SMA. Ini jelas ada kepincangan di negara kita, diskriminasi terjadi kan di situ.”

Janji Pemerintah

Direktur Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gendro Nurhadi mengatakan, aliran penghayat bukan agama tapi kebudayaan. Sehingga, kurikulumnya di sekolah tak diatur dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.

Tapi, setelah kebudayaan dan pendidikan bergabung dalam satu kementerian, persoalan diskriminasi siswa penghayat sering dibicarakan. Gendro berjanji mendorong perubahan UU Sisdiknas, agar nantinya siswa penghayat punya kurikulum sendiri, tanpa mengikuti agama yang diakui pemerintah.

“Ini masih gagasan. Karena apa, selama 11 tahun, kami kebudayaan itu di pariwisata. Kan sekarang kita sudah bergabung kembali dengan pendidikan, kan bisa dalam rapat-rapat dinas, kita bentuk bareng, notabene satu gedung, satu kawasan, satu kementerian, ada seperti ini pendidikan, ada baiknya, kan sudah ada wamenbud, sudah ada dirjen kebudayaan, ayo kita selesaikan.”

Ia juga menyarankan, warga penghayat mengajukan uji materi UU Sisdiknas ke Mahkamah Konstitusi terkait pasal kurikulum mata pelajaran agama di sekolah.

Kembali ke Pasewakan Bina Bakti Medal Sampurna. Anak-anak dari pelbagai tingkat pendidikan memupuk kepercayan diri sebagai penghayat. Kelak, Ardiansyah yang baru kelas 5 SD mendeklarasikan diri sebagai penghayat di lingkungannya.

Harapan untuk disetarakan dengan agama lain terus diperjuangkan komunitas Warga Perjalanan, tutup Asmat Susanto.

“Supaya hak-hak terutama dalam kurikulumnya, kita belum punya payung hukumnya, bisa selesai. Mudah-mudahan kita juga diperjuangkan oleh direktorat, dan penghayat ini kompak, itu mudah-mudahan keluar peraturan masalah kurikulum.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: